Rabu, 24 April 2013

Ketika Cinta Telah Usai



@ by, Elyska Ratnawati

P
emandangan pagi itu memang sangat indah dipandang mata, angin sepoy-sepoy melambaikan dedaunan yang hijau nan rindang. Gunung-gunung berjajaran membentuk bukit yang tinggi. Hari itu tepatnya hari jumat, terlihat jelas situasi jalan raya di pagi itu begitu tenang dan damai walaupun ramai oleh beberapa kendaraan yang tak henti-hentinya bolak-balik silih berganti, kesana-kemari.
Beberapa anak kos hendak berangkat sekolah melewati rumah Lilis yang terletak dipinggir kebun teh milik kakeknya yang luasnya sekitar 450 km. Tak jarang setiap liburan tiba, gadis itu selalu mengisinya dengan membantu kakek merawat kebun. Setiap bulannya menghasilkan panen yang terbilang cukup lumayan untuk kehidupan sehari-hari.
Mama pun mulai melangkahkan kakinya mengawali aktivitas dipagi itu untuk berjualan dipasar. Keranjang berwarna coklat tua yang dibawanya itu hanya berisi oleh lokat butut yang dibelinya satu tahun yang lalu. Sedangkan Papa dan Ramdan sedang bersarapan diruang makan dengan segelas susu putih yang dihidangkan bersama sepotong roti selei. Tak kalah halnya, kakek pun tampak begitu sibuk dengan aktivitasnya. Walaupun umurnya sudah amat tua ia tidak pernah mengenal lelah. Tidak hanya sibuk merawati kebunnya namun beliau masih tetap memperhatikan dan mengurusi ayam-ayam peliharaannya yang kandangnya terletak di belakang rumah.
Sekitar pukul 06.00 Lilis selesai mandi dan segera memakai seragam jilbab putih-abunya. Di letakannya tas dan beberapa buku di atas meja depan. Lalu, ia menghampiri Papa dan Ramdan, duduk sambil menikmati sarapan pagi yang telah disiapkan Mama sebelumnya. Beberapa menit kemudian, mereka beranjak dari meja makan untuk segera mengawali aktivitasnya dipagi yang cerah itu. Papa pergi ke kantor dengan menaiki motornya. Ramdan, adik semata wayang Lilis yang baru menduduki bangku SMP itu pun ikut menumpanginya dibelakang untuk pergi ke sekolah. Padahal lumayan deket sih jaraknya...! Sedangkan Lilis, ia berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkot langganannya. Dengan berjalan santai, di dekapnya beberapa buku diktat sains. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan setiap hari kecuali jika hari libur.
Y
Menjelang jam istirahat, nggak banyak anak yang berada di kelas. Yang ada adalah mereka D’Flower namanya, yaitu Lilis, Dwi, Lulu dan Amel. Ke empat sahabat itu tampak asyik bercerita dan bercanda gurau di pojok kelas.
Iwan adalah salah seorang anak kelas XI IPS 3, ia berjalan menuju kelas XI IPA 1 dengan gayanya yang so’ cool abizz. Sambil berjalan menuju kelas, sesekali tak lupa ia memandangi kaca jendela untuk merapikan rambut gaulnya yang bikin anak-anak cowok pada ngiri..
 Saat itu pintu kelas XI IPA 1 terbuka membentang karena banyak anak keluar masuk kelas. Ia pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dasar gak punya sopan santun...! Kemudian ia mengampiri D’Flower.
“Maaf, aku ada perlu sebentar dengan Lilis” Katanya.
“Ada perlu apa, Wan?” tanya Lilis sambil menoleh pandangannya ke arah Iwan yang masih berdiri tegap di depannya.
“Bisa keluar sebentar, Lis?” Ajak Iwan. Lilis pun menjawab santai “Hmm, Oke?!”
“Sorry guys, gue keluar sebentar ya!” izin Lilis kepada ke tiga sahabatnya. Lalu, ia beranjak dan mengikuti Iwan dari belakang yang hendak keluar.
Di luar kelas suasananya begitu ramai. Beberapa anak duduk berjajaran di teras depan dengan menikmati jajanan dari kantin yang terletak di belakang sekolah. Ada pula sekelompok anak laki-laki yang sedang asyik bermain bola basket di lapangan. Dan sebagian lainnya ada yang sedang bermain sepak bola.
Di taman..
“Sebelumnya aku minta maaf karena dah ganggu waktu kamu.” Ungkap Iwan sambil mencubit kecil sepotong dedaunan yang di ambilnya.
“Oh, tak apa kok” jawab Lilis pelan.
“Tadi malem aku kerumah Rio. Dia sempat cerita tentang cerita kalian dulu. Kebetulan ntar malem kita kan mau berangkat study tour ke Yogyakarta, sebelumnya dia ingin ketemu kamu...” Jelas Iwan to the point.
Tiba- tiba gadis itu terdiam sejenak. Wajahnya tampak begitu pucat mendengar nama yang telah lama menghilang dari pandangannya. Entah apa yang ada dibenaknya?
“Gimana? Apa kamu bersedia untuk ketemu Rio? Ingat lho, kesempatan nggak datang dua kali...” ucap Iwan dengan memandang raut muka Lilis. Lilis pun tertunduk malu. Dia nggak mau temannya itu mengetahui apa yang tergambar di muka gadis polos itu.
Tanpa ragu Lilis menjawab dengan melempar sebentuk senyuman ramah ke arah Iwan “Ehm.. oke deh! Aku mau.”
Dengan semangat, Iwan berdiri dan mengucakan terimakasih pada gadis yang da dihadapannya itu.
Y
          Bel tanda masuk kelas pun kembali berbunyi. Semua anak berhamburan menuju kelas dan meninggalkan kantin. Iwan kembali kekelasnya setelah Lilis menyetujui ajakannya itu.
Setengah jam pelajaran berlangsung tanpa guru dan hanya catatan panjang di papan tulis. Iwan tampak sibuk menghubungi teman yang di kenalinya sejak sekolah dasar itu.
“Hallo, Yo! Gue ada kabar gembira buat loe. Loe mau tau gak?” tanya Lucky so’ serius.
“Kabar gembira apa?” kata Rio yang hendak selesai melakukan uji praktek komputer saat itu.
Lilis mau ketemu loe ntar malem!!” jawabnya dengan tegas.
“Yang bener loe?” Tanya Rio dengan ekspresi kaget, nggak nyangka.
“Ya, gue bener lah...! Apa sih yang nggak buat sahabat gue sendiri..!!” Gombal Iwan sambil cengengesan.
“Thank’s banget ya...! loe emang sahabat gue yang paling the best deh...!!” ungkap Rio, tak kalah gombalannya dengan Iwan.
Komunikasi mereka pun berakhir saat Bu Nani memasuki ruang kelas. Iwan segera kembali menulis karena takut di marahi Bu Nani, guru paling gualak. Maklum, pembina Osis di sekolah kami walaupun galak tapi tegas brooo!! Dan keadaan kelas saat itu menjadi tenang kembali. Yah, ini  memang sudah menjadi ciri khas kelas XI IPS 3, jika nggak ada guru, kelas bagaikan station kereta api.. Tuuuut.....Tuuuut.....Tuuuuut.....!! bunyinya..

Y
Sore itu, Lilis tampak sibuk packing segala perlengkapannya yang akan dibawa saat tour nanti ke dalam tas gendongnya yang super gede. Dari peralatan mandi, pakaian, hingga kosmetik yang dimilikinya di tata rapi di dalamnya. Semuanya tampil perfect berwarna green.
Lain halnya dengan ketiga sahabatnya, Dwi, Lulu dan Amel, mereka sudah lama nongkrong di depan aula sekolah sambil menunggu Dara yang masih belum kelihatan batang tubuhnya yang mungil itu.
Lilis kok belum dateng juga ya?” tanya Dwi kepada kedua sahabatnya sambil memasukkan sepotong snack kentang goreng ke dalam mulutnya.
“Ya. Biasanya dia s’lalu menjadi yang paling awal.” Kata Amel yang sedang menempatkan tasnya di atas teras.
“Mungkin saja dia masih mempersiapkan segalanya yang akan dibawa.” Ungkap Lulu.
“Oia, By the way tadi si Iwan tumben-tumbennya ngobrol sama Lilis. Ngomongin apa ya mereka tampaknya serius banget?” Dwi penasaran.
“Paling juga masalah organisasi. Bukannya bulan depan mau di adakan latihan gabungan antar organisasi untuk sekolah kita?” sanggah Lulu.
Tak lama kemudian, disela-sela perbincangan mereka, Lilis  pun muncul dari pintu gerbang. Semua anak terpaku melihatnya.
Tiba-tiba, suara Bu Nani terdengar sangat keras di sekitar Aula.
“Tes.. tes.. !!” katanya sambil percobaan speakers yang dah lama gak ke pake.
“Kepada seluruh siswa SMA Bhakti yang hendak mengikuti Study Tour ke DIY diharapkan untuk segera berkumpul di lapangan basket setelah pukul 20.30. Terima kasih” Ucap Bu Nani memberikan intruksi kepada seluruh siswanya.
Menjelang malam itu, Iwan menghampiri Lilis yang sedang asyik berkumpul dengan ke tiga sahabatnya, D’Flower.
“Hey...!!”Iwan berusaha menyapa mereka. “Wah, kayaknya dah siap banget nih!!” goda Iwan. Semuanya menoleh pandangan sinis kepada lelaki itu, so’ dia dah dua kali ganggu kebersamaan mereka.
“Oh, iya donk!!” sapa mereka serempak. Kemudian Lulu menambahkan “Ada apa lagi sih, kayaknya mau ada perlu lagi ya, sama Lilis?”
“Boleh donk, gue pinjem temen loe itu, sebentar... aja?” pinta Iwan dengan wajah tanpa dosanya itu. Seakan-akan dia gak punya salah sama mereka.
“Boleh-boleh aja sih, tapi jangan terlalu lama, okey...?” tegur Amel dengan ekspresi jutek dan sebel.
Kemudian Iwan pun mengajak Lilis untuk menemui sahabatnya, Rio, yang sudah lama menunggunya di depan taman sekolah. Letaknya memang gak jauh dari Aula. Ketika Lilis dan Iwan berjalan menuju tempat itu, Lilis tampak nervous. Benaknya berkata, Duh, gue deg-degan banget nih! Mau ngapain ya ko tumben si Rio pengen ketemu gue? Ternyata, kalo difikir-fikir dia emang masih inget sama gue...!
Tiba di taman...
Terlihat Rio duduk sendiri di atas jok motornya. Iwan yang posisinya paling depan langsung menghampiri Rio terlebih dahulu. Jantung Lilis pun makin berdetak lebih kencang. Nervous banget nih gue. Benaknya.
“Hey Yo, tau gak siapa yang gue bawa?” tanya Iwan mengagetkan Rio sambil menutup kedua mata sahabatnya itu dari belakang.
“Gimana gue bisa tau siapa yang loe bawa? Mata gue ditutup nih, gelap tau!!” kata Rio.
Dilepaskannya tangan Iwan, Rio tampak senang melihat seorang cewek yang di bawa oleh sahabatnya malam itu.
Dengan penuh rasa nervous, Lilis segera mengawali percakapannya dengan Rio. “Hey, mm.. udah lama menunggu disini?” Tanya nya, gugup.
“Gak apa kok” ungkap Rio sambil tersenyum didepan Lilis. Ia pun segera mengulurkan tangan kanannya. Gadis itu pun segera membalasnya dengan ramah.
Karena gak mau ganggu keduanya, Iwan pun kembali ke Aula dan meninggalkan mereka berdua.
Y
Saat itu suasana menjadi lebih hening, Rio dan Lilis saling terdiam. Sampai suatu saat kemudian, tanpa disadari keduanya saling menyapa.
“Gimana kabarnya?” serempak. Duh kompak banget sih! Janjian ya buu??
“Hehe... ko kompak ya?” kata Rio. Lilis hanya tersenyum malu.
“Lho, kenapa? Ada yang lucu?” tanya Rio.
“Gak kok. Oia, kabar ku baik. Gimana sebaliknya?”
“Ya, aku juga baik.” balasnya pelan. Dengan segera Rio menyampaikan tujuannya.
“Ehm, Lis, maafin Rio ya? Dulu, Rio gak sengaja ninggalin kamu gitu aja?”. Permohonan itu terucap lembut, tampaknya dari lubuk hati yang terdalam. Lilis tak kuasa menatap raut muka cowok itu. Ia hanya tertunduk. Ia pun merasakan kerinduan yang selama ini terpendam dihatinya itu mulai terobati. Wajah Rio emang gak ganteng-ganteng banget sih. Tapi wajahnya itu lho baby face banget! Bikin hati cewek itu tertarik-tarik...!
“Ya, aku maafin kamu.” jawabnya seketika menatap.
“Makasih...”
Ucapan itu pun menjadi biang utama percakapan mereka.
Tak terasa selang beberapa jam mereka lewati. Kembali terdengar suara Bu Nani dari Aula, ke duanya pun saling ucap perpisahan karena Lilis akan segera menaiki bis dan berangkat ke DIY. Di elusnya rambut gadis itu penuh ketulusan dan kelembutan. Ia hanya mampu tersenyum penuh rindu.
Hingga timbul pertanyaan di benak gadis itu, Kenapa kita harus berpisah lagi? Aku nggak mau pisah lagi sama kamu, Rio!! Sejenak kata itu membuat hati Lilis kembali sedih. Ia pun  segera menghampiri teman-temannya di Aula. 

Y
Bis pun mulai berangkat. Semua anak duduk tertib di tempat duduknya masing-masing. Saat itu Lilis, Dwi, Amel dan Lulu berada di bis dua. Musik di bis dua pun sudah mulai terdengar tak kalah dengan bis satu dan bis-bis yang lainnya. Anak-anak tampak begitu senang. Ada yang sedang memainkan gitar, ada yang bernyanyi, ada pula yang ngemil-ngemil layaknya Dwi. Tapi berbeda dengan Lilis, dia duduk dengan tenang tanpa ada seorang pun yang mengganggu sambil melemparkan pandangannya ke arah jendela. Berharap bisa melihat Rio kembali.
Dari belakang, Lulu menggodai Lilis.
“Ehm... yang habis melepas rasa kangen....!!”katanya sambil cengengesan.
Kedua sahabatnya pun, Dwi dan Amel yang duduknya didepannya, ikut menggodai sahabatnya yang tengah di imbangi kerinduan.
“Bagi-bagi donk ceritanya...” kata mereka serempak. Gadis itu pun tersipu malu.
“Apaan sih?” tanyanya. Pura-pura gak tau.
Perjalanan pun masih begitu panjang.  Gorden bis ditutup rapat. Cahaya lampu tak lagi bersinar. Ke empat bis yang hendak berangkat itu berjalan pelan agar selamat sampai tujuan. Berbeda dengan bis-bis yang lainnya, keadaan di bis dua, anak-anaknya pasang ekspresi ketakutan. Mereka so’ berani nonton film horor. Yah anggap aja kayak lagi di bioskop.. Hehehe... tapi ada beberapa anak sudah terlelap tidur, mungkin kebanyakan ngemil jadi ngantuk deh! Ada pula yang masih ke asyikan ngobrol, kayak Llis dan ke tiga sahabatnya itu. Maklum, mereka ingin tau apa yang terjadi antara Lilis dan mantannya itu, Rio. CLBK gak ya???? Hehe..
Hingga tak terasa perjalanan saat itu diberhentikan sejenak. Sekitar pukul 22.30 ke empat bis berhenti di depan sebuah tempat makan. Anak-anak pun terbangun dan turun dari bis untuk segera mengisi perutnya yang sejak tadi miscall..

Y
Pagi yang cerah itu, matahari mulai memancarkan sinarnya dengan indah. Sungguh besar kekuasaan tuhan. Begitu megahnya dunia dengan berbagai isinya. Langit biru tampak lebih sejuk dengan udaranya. Burung-burung pun memamerkan suaranya yang merdu. Kupu-kupu berwarna-warni itu hinggap diatas sekuntum bunga mawar yang di letakkan di taman sebuah hotel.
Kebiasaan buruk yang di alami sebagian anak-anak SMA Bhakti yaitu bangun kesiangan sudah melekat di dalam diri mereka. Sungguh ruginya mereka tidak melihat keajaiban yang terjadi di pagi itu. Namun berbeda dengan D’Flower yaitu Lilis, Dwi, Amel dan Lulu. Mereka sudah terlebih dahulu bangun paling awal dari yang lainnya.
Dwi mulai bergegas membereskan perlengkapannya. Lain halnya dengan Amel ia sudah nongkrong di depan kamar sambil bercanda gurau dengan salah seorang temannya, cowok. Sedangkan Lilis, sedang duduk sambil menunggu Lulu yang lagi mandi. Lulu emang paling lama banget kalo dah diem di kamar mandi. Gak tau deh, lagi ngapain?
Y

Ketika semuanya sudah siap berangkat, anak-anak kembali masuk kedalam bis. Perjalanan memang tidak begitu jauh dari tempat peristirahatan mereka. Obyek wisata yang pertama kali di kunjungi adalah Candi Borobudur.
Hingga sesampainya di sana, suara Bu Nani yang lantang itu kembali terdengar memberi intruksi. Semua anak mengerubunginya untuk mengetahui pengarahan dari seorang pemandu disana.
Tak lama kemudian, setelah di berikan pengarahan, semua anak di bolehkan untuk bermain disana. Dilihat dari sebelah kanan, ada sepasang suami istri yang datang dari Swedia - Inggris sedang asyik bercakap-cakap dengan Lilis dan kawan-kawan. Tak lupa mereka mengisi kesempatan itu dengan berfoto-foto dengan turis asing tersebut.
Selang beberapa jam, semua kembali ke bis. Namun Lilis dan Amel masih berada di sebuah shop kecil yang terletak di dekat Candi.
“Eh, Lis, lihat deh pernak-pernik di toko itu bagus-bagus ya? Kesana yuk?” ajak Amel.
“Yuk...!”jawabnya singkat. Kemudian mereka menghampiri toko itu yang kelihatannya menjual berbagai pernak-pernik buat cewek.
Mereka tak sadar ke dua sahabatnya, Dwi dan Lulu sudah menunggunya di bis.
“Lu, loe lihat Lilis sama Amel, gak? Tadi kan bareng kita?” tanya Dwi khawatir. Lulu menengok pandangannya ke arah keramaian orang.
“Wah, gue gak lihat! Kemana ya mereka?”
“Oia, mereka kan Miss Shoping...?” Dwi baru inget.
“Pasti mereka nyangkut disana..!” kata Lulu dengan menelunjukan telunjuknya ke berbagai shop kecil yang berjajar itu.
“Mana susah lagi nyarinya...” gerutu Dwi tampak begitu kesal dengan kelakuan sahabatnya, Lilis dan Amel.
Tak lama kemudian, muncul Lilis dan Amel. Terlihat masing-masing di antara mereka membawa sebuah kantung berisi pernak-pernik yang dibelinya.
“Loe kemana aja sih?” tanya Dwi dengan pandangan tajam kepada keduanya.
“Mm... sorry guys, tadi kita habis beli something dulu...” jawab Amel, nyengir. Gak peduli dengan kekesalan Dwi yang sejak tadi mengembur seperti api.
          Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa obyek wisata pun telah di lalui. Dari penampilan yang awalnya Wah, jadi berubah, menjadi tampang-tampang asli yang lelah, kotor, bau keringet, semuanya kayak gitu deh.. Mereka pun segera pulang ke hotel untuk beristirahat.

Y

Setelah tiga hari di DIY, tampaknya anak-anak SMA Bhakti begitu sangat kelelahan. Sekitar pukul 15.23 sepulangnya dari Pantai Parang Tritis, mereka melanjutkan pulang ke tempat asal. Tapi tak ada yang berubah dari semangat mereka, walaupun lelah tampaknya mereka sangat senang dan mungkin belum puas untuk menikmati liburan panjang disana.
Di bis dua, anak-anak sangat kompak bernyanyi riang. Namun berbeda dengan Lilis, ia tampak sibuk smsan. Tau deh bareng siapa?
“Pulang nya kapan?” muncul pertanyaan itu di layar handphone Lilis. Kemudian ia segera membalasnya.
“Pulang ntar malem...” jawabnya singkat.
“Kira-kira jam berapa?” balasan pun semakin kuat untuk kembali memulai percakapan lewat sms.
Kalau di tilik-tilik, sms itu di kirim dari seseorang yang bernama Rio. Oh... ternyata Rio kembali ngasih perhatiannya buat Lilis... huuuu CLBK nih....??
“Sekitar jam 10 malem, mungkin?”
“Ya udah nanti, aku jemput ya... Hati-hati aja dan jangan lupa makan!” balasnya penuh perhatian.
Tiba-tiba...
“Ehm,,, ca’ileee ada yang mau dijemput ama someone specialnya nih...” suara itu jelas terdengar di telinga Lilis. Seseorang menambahkan dari arah samping “Pasti hatinya lagi berbunga-bunga” tangkas anak itu.
Kemudian Lilis menoleh ke belakang..
“Luluuu!!!” teriak gadis itu dengan muka cemberut.
“Tak apa kok, biasa aja. Aku kan sahabat mu” kata Lulu pasang muka tak berdosa.
“Tapi kan ini rahasia...”gerutu Lilis malu.
“Ya deh, maaf!!!”
Tiba-tiba....
“Wooow.... lihat pasir itu!!” seru seorang anak yang sedang mengarahkan pendangannya keluar jendela. Kemudian ia berkata lagi, “Indah cristal itu....!!”
Dengan segera Lilis dan Lulu berhenti berseteru, dan ikut mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
Amazing....!!” Seru Lulu, bangga.
“Lu, bagus ya?” tanya Lilis seakan melupakan perseteruan yang terjadi di antara mereka barusan.
“Ya. Oia, padahal bibi ku pengen di bawain pasir kayak gitu.” Katanya.
“Untuk apa?” tanya Lilis penasaran.
“Ya sebagai kenang-kenangan dari sini aja. Kebetulankan bibi ku lagi ngidam.” Jelasnya.
“Hahaha.... aneh-aneh aja ya!! Masa iya ngidam pasir…??Lilis tertawa terbahak-bahak begitu mendengar parkataan sahabatnya yang konyol itu.
Saat semuanya terpukau pada berjuta-juta butir pasir, Amel dan Dwi tampak nyenyak dan pulas menikmati tidur siang yang melelahkan itu. Sepertinya mereka nggak terganggu dengan keramaian yang di buat teman-temannya di dalam bis. Sedangkan Iwan, ia terbangun dan langsung pasang muka kesel.
“Woy... jangan berisik donk!! Gue pengen tidur nih......!!” teriaknya.
Tapi semua anak tak menghiraukannya. Mereka keasyikan bercanda gurau tanpa memperhatikan Iwan yang marah besar.

Y
          Sekitar pukul 20.00 Mama, Papa, dan Ramdan sedang duduk di teras luar sambil menikmati dinginnya malam. Mereka menunggu kedatangan Lilis dari study tour.
“Pa, Lilia pulang jam berapa?? Mama sudah ngantuk nih” kata Mama dengan suara lembut.
Ramdan juga. Pengen bobo ah...” seru anak laki-laki itu. Ia berdiri dan berjalan menuju kamar.
“Tadi Lilis hubungi Papa. Katanya pulang nya agak maleman” jawab Papa sambil meminum secangkir kopi hangat, menghilangkan rasa ngantuk.
Tiba-tiba, “Tiiiit.... Tiiiit....” dari dalam terdengar bunyi handphone. Ramdan  pun berteriak sangat keras,
“Papa, Mama, Kak Lilis pulangnya bareng Kak Rio...!!”
“Rio? Kenapa bukan Randy saja yang jemput?” kata Mama kaget.
“Rio itu siapa, Ma?” tanya Papa khawatir. Papa emang gak inget sama sekali dengan seorang Rio yang pernah menjadi kekasih putrinya tahun lalu.
“itu lho Pa, mantan pacarnya Lilis. Yang sekolahnya di SMK Harapan 2. Pokoknya Mama gak setuju kalo Lilis di jemput sama dia!! Dia anak yang gak punya sopan santun sama orang tua!! Papa masih inget kan, waktu Lilis di ajak pergi liburan sama dia, tapi dia gak izin dulu sama kita?!” ungkap Mama kecewa. Kemudian ia menambahkan, “Cepet Papa jemput Lilis, sekarang!!”
Handphone Papa pun berbunyi lagi, ketika di buka...
“Pa, Ma, jangan khawatir Lis segera sampai di rumah. Tunggu Lis  disana ya...”
Akhirnya dengan rasa penuh kekhawatiran Mama menunggu putri semata wayangnya. Mama emang gak suka dengan sikap Rio yang dulu. Tapi Rio yang sekarang beda, Ma. Dia dah tau artinya sopan santun. Benak Lilis.

Y
Tiba di sekolah pukul 23.10 semua anak turun dengan tertib dari bis. Sebagian anak ada yang bermalam di sekolah karena tidak ada jemputan. Sebagian anak pula ada yang sedang menunggu orang tuanya untuk di jemput layaknya Dwi, Amel dan Lulu. Mereka memasang muka gelisah. Berbeda dengan Lilis, hatinya sedang berbunga-bunga. Karena seseorang telah menunggunya sejak tadi.
“Ayo naik...” ajak cowok itu lembut. Lilis tersenyum bahagia. Ia pun segera menaiki sebuah motor yang di miliki cowok bertampangkan baby face itu.
          Di perjalanan, Lilis sempat memutar fikirannya pada masa lalu. Wah... gue pasti bakal seneng banget kalo gue bisa balikan lagi sama dia. Benaknya dengan penuh harapan. Tiba-tiba sepintas illfeel, dia melihat Rio tak seperti dulu. Sekarang dia lebih dewasa, wajahnya yang baby fice itu udah gak kinclong lagi.. Aku kangen banget sama kamu yang dulu, Rio!!
Ketika cewek manis itu sedang ke asyikan berkhayal, tiba-tiba dia di tawari Rio untuk memakai jaketnya. Huuu... so’ perhatian banget sih...!! Jadi tambah seneng aja tuh cewek...!!
“Ehm, gak usah kok” tandasnya, pura-pura.
“Nanti kamu kedinginan, ntar sakit lagi, gimana?” kata Rio penuh perhatian. Namun Lilis tetap menolaknya.

Y
          Hingga sesampainya di rumah. Selang beberapa jam Rio menyempatkan waktunya untuk bersilahturahmi kepada Papa – Mamanya Lilis. Ternyata cowok itu bisa meluluhkan ortunya Lilis.
          Lilis membantingkan tubuhnya di atas kasur setelah mantan pacarnya itu pamit pulang. Dia memejamkan matanya sebentar, lalu menerawang menatap langit-langit kamar. Nggak bisa tenang dia membolak-balik posisi tidurnya tapi tetep aja gelisah.
“Kenapa gue mikirin dia terus?” kata Lilis. Dia membayangkan kenangan terindah yang baru saja ia alami bersama Rio.
“Kenapa sih loe so’ perhatian banget sama gue? Duh... Rio, kenapa sih loe dateng lagi ke kehidupan gue...? Gue kan dah hampir aja ngelupain loe dan kenangan kita di masa lalu...?” katanya, kesal pada dirinya.
“Tapi... makasih ya, loe emang baik banget sama gue. Loe bela-belain jemput gue tengah malem. Padahal besok kan loe harus masuk sekolah. Tau gak, kehadiran loe barusan tu jadi bikin gue pengen banget perbaiki masa lalu kita...”
Tiba-tiba ia membukakan matanya,
“Ah, nggak!! Pokoknya gue gak boleh ngarep sama dia! Inget Lis, loe tu dah punya Randy sekarang!” kata Lilis pada dirinya sendiri. Dia pun terbangun dan menatap dirinya ke cermin.
“Rio itu mantan gue. Gue gak boleh berharap terlalu berlebihan sama dia. Dia hanya untuk jadi sahabat gue. Inget!!, hanya sahabat...!! HANYA SAHABAT ... !!!”kata Lilis berusaha mengembalikan semua tujuan awalnya.

Y
          Waktu pun terus berputar, sebulan gak ketemu Rio rasanya berat banget bagi Lilis. Ya walaupun hanya sebatas komunikasi lewat hp, emang gak memuaskan!!
Lis, gimana, loe masih contact gak bareng Rio?” tanya Iwan.
Saat itu sekolah kami sedang mengadakan kebersihan karena minggu depan anak kelas XII akan menghadapi Ujian Nasional.
“Kalo gitu minggu depan kita libur donk...?” Terdengar pertanyaan seorang anak itu dibalik pintu kelas penuh semangat.
          Kebetulan saat itu Lilia dan teman-temannya lagi nongkrong di depan kelas XI IPS 3.
“Contact sih pasti..!” jawabnya singkat.
“CLBK ya?” tanya Iwan penasaran.
“Gak kok” tandas Lilis dengan cepat.
“Mau tau aja loe urusan orang...!!” seru Dwi sambil menyeruput es kelapa muda yang dibelinya barusan.
“Hehehe...”  Iwan tertawa terbahak-bahak padahal gak ada yang lucu, dasar orang aneh...!!
Ketika semuanya sudah beres, seluruh ruangan kelas dan kantor guru sudah tampak bersih dan kinclong, begitu pula dengan taman dan rerumputan yang telah di potong serapi mungkin oleh tukang kebun sekolah.
Tiba-tiba seorang guru ekonomi berdiri di depan lapangan basket untuk memberikan pengumuman. Semua anak pun langsung menyerbu tanpa leha-leha. Anak-anak kelas X dan kelas XI tampak begitu semangat mendengar minggu depan libur. Berbeda halnya dengan kakak kelas mereka. Tampak dari wajahnya begitu gelisah menghadapi ujian nasional minggu depan.
“Semangat.....!!” seru Pak Zaenal memberikan semangat kepada seluruh anak-anak kelas XII.
Akhirnya pengumuman pun selesai, semua anak berhamburan menuju pintu gerbang. Beberapa anak laki-laki bersorak-sorai menyambut hari libur. Terlihat D’Flower sudah siap menuju rumahnya masing-masing.
Hey guys, seminggu penuh kita libur nih, kita bikin planing yuk?” ajak Dwi memastikan kepada ketiga sahabatnya.
“Kalo menurut gue sih, mending kita istirahat aja di rumah,” kata Lulu dengan nada suaranya yang gak semangat. Maklum lagi M...! jadinya kebawa-bawa lemes dweh...!
“Mending kita shopping aja, gimana? Refreshing gituu...!” tangkas Amel dengan gayanya yang so’ perfect.
“Hm... di rumah? BT..!! shopping?? Buang-buang duit...!! gimana kalo dalam seminggu ini kita pake buat di rumah, shopping, juga kumpul di rumah gue sembari ngerjain tugas observasi study tour kemaren and kalo ada waktu kita reunian, makan-makan gitu deh..! gimana??” saran Lilis. Dia merubah mimiknya dengan serius.
“Hmm... Oke dech...!!” jawab Dwi, Amel, dan Lulu serempak.
Perjalanan menuju rumah memang begitu lama. Di dalam angkot, mereka habiskan kesempatan dengan bercanda gurau. Salah satu dari mereka ada saja yang menjadi bahan ledekan.
Yah..! Amel, si cewek berpenampilan feminim dan so’ perfect dengan warna serba pink-nya itu selalu di jadikan bahan ledekan oleh ketiga sahabatnya, ya? Walaupun begitu dia paling jago dapetin cowok-cowok keren lho...
Lulu, cewek yang sama sekali gak mandang penampilan ini emang jago banget kalo di ajak debat. Pokoknya gak bakal berhenti-berhenti deh... kalo gak ada titik!! Koma juga bakalan di terobos lho!!hehehe... cewek ini emang pemalas bangun pagi. Dia juga termasuk salah satunya siswi yang sering banget kesiangan gara-gara malasnya itulah.
 Dwi...! siapa sih yang gak kenal Dwi? Si cewek paling doyan jajan di antara D’Flower lainnya ini emang gak kalah saingannya kalo ngerebutin piala emas cewek paling jutek se-internasional. Weleh-weleh...!!(geleng-geleng donk!!). Tak hanya itu, cewek berkulit putih ini emang paling jago bikin puisi lho. Apalagi kalo puisinya tentang cinta. Ternyata cewek jutek juga bisa jadi puitis..!! Bayangkan kalo cewek jutek ngomel-ngomel dengan kalimat puitisnya itu.. wow gokil banget kali ya..?haha..
Berbeda halnya dengan Lilis yang memiliki tubuh mungil ini emang paling calm di antara keempat sahabat itu. Dia mulai menekuni hobby menulisnya hingga beberapa karyanya di pajang di mading. Dan mulai berani memuat karyanya di tabloid. Wah... mau jadi penulis populer ya??? Namun ia tak pernah menjadi seorang cewek peminder walaupun beberapa temannya ada yang menjulukinya “Sizuka”. Selalu menanggapinya dengan Happy!!
 Pokoke D’Flower emang flower banget deh, ada kelopaknya, ada mahkotanya, ada putiknya, ada pula buahnya... yah itu, perfect and wangi abieszzzz!!

Y
Malam itu adalah malam minggu, di tengah keramaian terlihat Lilis dan Dwi sedang asyik memilih pernak-pernik yang terbuat dari bahan busa dan berbulu. Hingga perut mereka pun keroncongan, akhirnya mereka datang ke sebuah tempat makan.
“Wi, loe mau pesen apa?” tanya Lilis sambil melihat-lihat buku menu.
“Gue samaan aja deh ma loe”jawabnya.
“Mba, kita pesen es jeruk dan stick kentangnya dua yah! GPL, mba!” perintah Lilis kepada seorang pelayan di depannya.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka pun segera membayar jajanannya. Ia keluar dan melanjutkan jalan-jalan malamnya ke sebuah Distro yang lagi discount besar-besaran. Lumayan murah sih harganya!
Lis, emangnya Randy lum dateng juga dari Bali?” tanya Dwi. Lilis tersenyum mendengar pertanyaan Dwi yang tumben-tumbennya nanyain Randy, pacar Lilis yang udah setahun lebih ini berhubungan dengan Lilis, sahabatnya.
“Belum” jawabnya singkat.
Sambil memilih beberapa pakaian yang kesemuanya charming, gak berhenti-berhentinya mereka bercerita. Lilis bercerita tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Rio. Wah, tampaknya dia begitu senang. Walaupun sebulan ini belum ketemu lagi. Kenangan bersama Rio malam itu, emang masih tersimpan di hati Lilis.
Tiba-tiba ketika keduanya tertawa riang, tak sengaja Dwi menolehkan pandangannya ke pintu masuk. Matanya membelalak siapa yang masuk ke distro ini.
Lis, bukannya itu Rio?” Dwi merasa ragu dengan apa yang dilihatnya. Lilis pun menolehkan pandangannya ke arah Lelaki yang ditunjukan sahabatnya itu.
“Rio??” Lilis kaget. Ia tak percaya jika Rio ada di tempat yang sama.
Tapi tiba-tiba hatinya berubah menjadi sangat perih dan begitu sakit tak seperti sebelumnya. Ketika dilihat Rio menggandeng seorang cewek??!!
Dwi langsung menyergap pundak sahabatnya itu. Ia mengerti dengan perasaan Lilis.
Lis, sabar ya??” Dwi mencoba memberikan nasihat. Namun Lilis tampaknya tak bisa menahan kesedihannya. Setitik demi setitik air mata itu terjatuh dan membasahi pipinya. Namun tampaknya Rio memang tidak melihat keduanya.
 “Siska??” Dwi terus bertanya-tanya dalam hatinya. “Apa itu Siska??”
Lis, cewek itu Siska!” kata Dwi, gak nyangka.
Lilis memandang keduanya dari jauh. Dan ternyata memang benar cewek itu adalah Siska. Siska sahabat yang ia kenal sejak menduduki bangku SMP itu ternyata pacar Rio. Tapi entah, apakah benar Siska adalah pacar Rio?? Kalo memang benar, untuk apa kemaren Rio memberikan kesempatan dan harapan penuh sama gue? Nemuin gue dan jemput gue sepulang tour? Tapi kalo salah, kenapa Rio dan Siska saling bergandengan tangan? Dan datang kedistro ini hanya berduaan saja? Benak gadis itu bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian, tak sengaja Rio meleparkan pandangannya ke arah Lilis. Tampaknya Rio begitu gugup dengan kelakuannya. Di lepas tangan cewek itu dari genggamannya karena ia tau Lilis memperhatikan keduanya. Akhirnya dengan tak kuasa menahan pedih, Lilis mengajak Dwi untuk segera beranjak pergi dari distro itu.

Y
          Kejadian malam itu membuat Lilis kapok dan menyesali pertemuan antara dirinya dengan Rio. Sejak itu Lilis ingin melupakan kembali kenangan terindahnya bersama mantannya itu dan dia tidak ingin bertemu dan berhubungan lagi dengan cowok itu.
Sekitar pukul 10.00 handphone Lilis pun berbunyi “Kriiiiiing....Kriiiiiiing...!!”tanda pesan masuk.
Gadis yang sedang sibuk mengisi liburannya dengan membantu kakeknya merawat tanaman teh di kebun, tidak mendengar sama sekali kalau handphonenya itu berbunyi. Tampaknya ia sangat senang. Tergambar dari raut mukanya yang ceria.
“Kek, sini, biar Lilis yang mengambil tehnya. Kakek istirahat aja di sana!” kata gadis itu dengan lembut sambil menunjuk jari telunjuknya ke suatu tempat peristirahatan untuk kakeknya. Wajah kakek yang sudah keriput itu tampak sekali sangat lelah.
“Terima kasih, kau cucu ku yang paling baik.” Ungkap kakek. Kemudian kakek  berjalan menuju tempat itu.
Di bawah pohon mangga yang rindang itu, kakek memandang cucu kesayangannya dari jauh sambil menikmati hidangan yang sudah disiapkannya.
“Cucu ku memang cantik, manis, rajin pula. Aku bahagia memiliki cucu seperti Lilis yang tulus membantu ku. Terima kasih, Tuhan...” banaknya penuh rasa syukur.
Tiba-tiba Mama menghampiri kakek. Dan meletakan secangkir kopi hangat untuk kakek.
Y
Beberapa jam kemudian,
Lis!!” teriak cewek berparaskan putih pucat itu. Lilis pun menoleh ke arahnya.
Ia  tersenyum begitu melihat siapa yang memanggilnya. Dengan langkah cepat cewek itu pun menghampiri Lilis yang sedang berada di tengah kebun teh.
“Hey Lis, lagi sibuk ya?”kata cewek itu pada Lilis.
“Ga kok, aku lagi bantuin kakek aja.”
“Wah, aku bangga punya sahabat seperti kamu.” tangkas Dwi.
“Sini, aku bantuin, bolehkan?” pinta Dwi sambil sedikit demi sedikit tangannya mulai mencabut sepotong pucuk daun teh. Akhirnya mereka pun selesai. Kemudian beberapa kantung teh yang telah mereka hasilkan di berikan pada kakek. Kakek pun tampak begitu senang.

Y

Di kamar...
Lis, dia itu Siska. Mana mungkin aku pacaran sama dia? Aku cuma anggep dia sodara!” Kata Lilis keras membacakan satu pesan masuk dihandphonenya, tiga jam yang lalu.
Dwi pun bangkit karena kaget mendengar kalimat yang dibacakan sahabatnya itu.
“Loe percaya?”tanya Dwi. Lilis hanya memandang Dwi, entah balasan apa yang akan di berikan pada seseorang yang mengirim pesan itu.
Tiba-tiba Lilis meletakan handphonenya sembarang. Dan membantingkan tubuhnya yang lelah itu dikasur. Seakan-akan ia tak peduli dan menghiraukannya.
“Kenapa?” Dwi semakin penasaran dengan sikap sahabatnya yang rada-rada aneh itu.
Ga pa pa koq, wi!!” jawabnya singkat.
“Lho, ko ga di balas?”
“Lagi gak pengen aja...”
Dwi pun akhirnya mengerti dengan sikap sahabatnya itu. Tanpa berfikir panjang, Dwi menarik tangan Lilis dan membawanya keluar.
“Lihat, Lis!! Dunia ini cukup luas!! Loe teriak sekeras mungkin agar semuanya lega...!!” kata Dwi sambil memandang raut muka gadis itu.
“Gue gak mau. Lagian gue dah coba tuk lupain dia. Tenang guys, gue fine-fine aja”
“Bener loe fine-fine aja?”tanya Dwi, gak percaya.
“Ya...!!” jawab Lilis dengan penuh semangat. Tak lama kemudian handphone Lilis berbunyi kembali, tanda panggilan masuk.
“Met ciang, Lilis ku!! Lagi apa?” sapa seseorang dibalik panggilan itu.
“Met ciang juga, Randy ku. Sekarang Lis, lagi maen sama Dwi,” jawab Lilis lembut. Dwi pun membiarkan sahabatnya berkomunikasi dengan Randy, pacar Lilis. Tampaknya Lilis emang fine-fine aja. Ia begitu riang dan ceria saat ditelpon Randy.

Y
Sore itu, Rio dan Iwan sedang asyik menonton acara televisi dirumah Rio. Mereka tampak serius. Ya, itu adalah acara kesukaan mereka, Moto GP, yang diputar ulang. Namun di tengah acara tersebut, mereka ngobrol sambil menikmati cemilan.
Wan, loe tau gak, kemaren waktu gue lagi jalan bareng Siska, gue ketemu Lilis.” Katanya.
What....?? Sumpe loe??” tanya Iwan gak percaya.
“Mingkem dulu kek...!! gue jadi illfeel ceritanya..”gerutu Rio melihat ekspresi sahabatnya itu.
“Hehehe... sorry!! Eh yang bener loe??”
“Ya.”
“Trus?”
“Trus Lilis langsung cabut, tau deh kemana bareng temennya?” tangkas Rio.
“Loe kok tega banget sih!!”seru Iwan so’ peduliin perasaan Lilis.
“Ya habis, gue bener-bener gak tau kalo dia ada disana?”jelas Rio.
“Ya udah, gue ngerti kok. kalo gitu loe smsin dia kek, minta maaf gitu.” Iwan mencoba memberi saran pada sahabatnya itu yang tengah kebingungan.
“Udah dari tadi kali, bray!!”jelas Rio singkat.
“Trus, balesannya gimana?”Iwan semakin penasaran.
“Gak dibales?”
“Ah, payah loe...!! Katanya pengen CLBK-an, tapi loe nya? Kenapa juga loe jalan bareng Siska? Akhirnya jadi gak beres gini kan? Inget ya loe, gue udah berusaha deketin loe sama Lilis.” kata lelaki itu panjang lebar.
“Ya, ya, gue tau! Gue berterima kasih banget sama loe. Terus sekarang gue mesti gimana?” tanya Rio meminta saran ampuh dari sahabatnya itu.
“Ya, loe temuin dia lah...!!”katanya sambil menyeruput sebotol coca colla yang dipegangnya.
Akhirnya saran Iwan pun diterima Rio. Dengan segera cowok itu pun beranjak dan mengambil kunci motornya diatas meja.
“Loe mau kemana?” tanya Iwan. Ia mengikuti sahabatnya itu yang hendak keluar pintu rumah.
“Gue mau nemuin Lilis!!” jawab Rio penuh semangat. Dengan cepat ia menghidupkan motornya dan meninggalkan Iwan yang sejak tadi menunggu ajakan Rio. Wah... cician banget sih loe, Wan....!!

Y
          Saat mentari mulai menyembunyikan sinarnya di pekat malam, saat itu pula D’Flower tampak asyik berkumpul di rumah Lilis. Amel dan Lilis begitu sibuk dengan beberapa genggaman daging ayam yang hendak dibakarnya. Lulu pun ikut menyiapkan piring-piring beserta gelas dan sendoknya bersama Dwi. Terlihat Mama membantu ke empat sahabat itu dengan membuat bumbu andalannya yang super peduasss, das-das-dassssss!! Tapi, enak kok, bisa bikin orang yang ngerasainnya ketagihan!!! 
Sedangkan Papa dan Ramdan, mereka sedang tak ada dirumah malam itu.
“Hmm... aromanya nguenakkkk banget....!!”kata Amel sambil mengipas-ngipas ayam bakar di depannya.
“Terasa... nikmatnya!!” seru Lulu.
“Sini Ma, Dwi cobain bumbunya...”pinta Dwi sambil mendekati Mama yang sedang ngulek sambal andalannya.
“Bohong Ma, jangan mau di cobain sama dia. Ntar keterusan lho...tar habis lagi...!”singgung Lulu kepada sahabatnya itu. Mama hanya tersenyum melihat mereka.
          Akhirnya acara panggang ayam pun dimulai. Walaupun terasa kurang dengan kehadiran Papa dan Ramdan. Namun acara tersebut tetap dimulai.
“Ini dia.... panggang ayam paling nguenak!!”kata Lilis sambil menyodorkan ayam panggang yang telah dibumbui Mama sebelumnya kepada ketiga sahabatnya. Amel, Dwi dan Lulu tampaknya sudah kelaparan dari tadi. Maklum, baunya itu lho yang bikin Ma’Nyosss!!
Setelah sepiring penuh tersapu bersih, sepasang mata Amel tampak layu. Tinggal 5 watt lagi!!  Tanpa berfikir panjang, kemudian dia segera pergi ke kamar dan menyerahkan rasa ngantuknya ke kasur. Lain halnya dengan Lilis dan kedua sahabatnya yang lain, segera mencuci piring beserta gelas dan sendok yang telah dipakainya.

Y
          Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu depan rumah. Mama yang sedang menonton acara televisi trans7, OKB yang diperankan Olga Saputra dan Rafi Ahmad itu, segera menghampiri dan membuka pintu dengan pelan.
“Permisi...!!” sapa  seorang cowok dengan melemparkan senyuman kepada Mama. Mama pun membalasnya dengan ramah.
“Ada Lilis nya, Tante?” katanya.
“Ada. Silahkan masuk! Sebentar Tante panggil dulu, ya!”
          Didalam ruangan, cowok bernama Rio itu duduk sendiri. Dilihatnya sebuah foto didinding, seorang gadis tergambar jelas dengan sebentuk senyuman manis dengan rambutnya terbalut oleh jilbab berwarna emas. Ya, itu adalah gambar Lilis ketika masih menduduki bangku SMP.
          Tak lama kemudian, Lilis menghampiri cowok yang sejak tadi duduk sendiri tak sabar menunggunya. Dwi dan Lulu hanya mengintip didalam.
Lis, gimana kabarnya?” katanya sopan.
“Kabar ku baik,” jawab gadis itu pada Rio. Kemudian Rio mengajak Lilis ke depan rumah. Memang pemandangan didepan begitu memungkinkan keadaan di antara keduanya. Dengan beberapa penjelasan untuk di ungkapkan pada Lilis sudah tertempel di otak Rio.
“Kedatangan ku kesini, aku pengen minta maaf sama kamu? Aku tau perasaan kamu ketika melihat semua itu.”kata Rio menyampaikan tujuannya. Namun tampaknya Lilis tak peduli.
“Kenapa? Ko gak dijawab? Kamu gak bisa maafin aku? Atau mungkin kamu marah sama aku?”tanyanya lagi.
Gadis itu pun masih menundukkan kepalanya. Seketika ia menoleh pandangannya pada Rio. Dan akhirnya ia berkata,
“Siapa bilang? Aku gak peduli dengan apa yang ku lihat kemaren. Anggap aja semua yang telah terjadi di antara kita kemaren, gak ada sama sekali alias kosong! Kamu nemuin aku, kamu jemput aku sepulang tour, kita saling komunikasi lagi, itu semua anggap aja hanya mimpi. Karena asal kamu tau, setelah aku berfikir lebih panjang lagi, setelah aku melihat semuanya, aku rasa...” Tiba-tiba Lilis terdiam sejenak.
“Kamu merasa apa?”tanya cowok itu dengan menatap raut muka Lilis yang tampaknya penuh dengan kekesalan.
          Hingga tak kuasa menahan sakit hati yang terpendam dihatinya, Lilis pun melontarkan sepotong kalimat yang begitu pedas dan mendalam bagi seseorang yang mendengarnya.
Ia berkata, “Aku rasa, kalo Loe tu emang gak pantes jadi sobat gue!!” katanya pelan sambil menatap raut muka cowok didepannya. Seketika Lilis memalingkan mukanya kembali. Rio hanya terdiam dan kaget begitu mendengar kalimat itu.
          Tanpa fikir panjang lagi, tiba-tiba Lilis beranjak pergi dari tempat Rio. Tujuan kedatangan cowok itu pun tak menyisakan kebahagiaan. Harapan yang hendak disampaikan pun tak sempat dibicarakan kepada Lilis. Akhirnya semuanya berakhir tanpa terwujudnya harapan yang terpendam di antara keduanya. Lilis pun memutuskan untuk tidak mengingat lagi kenangan bersama Rio.
Y
          Di tengah malam yang pekat. Ditulisnya sebuah lagu Mulan Jameela didalam buku diary,
Begitu manisnya untuk dikenang
Saat kau masih mengejar cinta ku
Begitu manisnya tangis mu untuk
Memohon hadir ku kedalam hidup mu..
Kata mu kau tak akan tinggalkan aku
Sakiti aku, lukai aku
Tapi kau ternyata
Tinggalkan aku sendiri..
Kata mu kau tak akan pernah duakan
Hati mu, cinta mu..
Kemana perginya kamu yang dulu
Yang maunya selalu dekap dengan aku
Kemana perginya cinta yang dulu
Yang pernah kau tikam kedalam jantung ku..
Hingga tak kuasa ia menahan air mata. Setitik demi setitik air mata itu tejatuh membasahi kertas. Tiba-tiba ketiga sahabatnya Dwi, Amel dan Lulu terbangun dan saling berbisik melihat keadaan Lilis.
“Ada apa dengan dia?” tanya Amel.
“Gak tau?” jawab Dwi pada Amel.
“Tadi malem, bukannya dia habis ketemu Rio? Biasanya dia tampak senang tapi kenapa sekarang dia jadi gini?” kata Lulu.
Mendengar kata-kata itu, Dwi kembali mengingat peristiwa malam lalu. Tiba-tiba ia menghampiri sahabatnya itu dengan iba.
Lis, gue tau.”sapa Dwi. Ia memandang wajah cewek didepannya dengan rasa penuh kasihan. Namun Lilis mencoba menghapus air mata itu dan berusaha untuk memendam sakit hati yang dirasakannya.
“Gue tau, Lis. Mimik muka loe sangat jelas tergambar perasaan loe saat ini. Gue harap loe peluk gue sekarang.”
“Ayo!”katanya dengan lapang. Akhirnya gadis itu pun memeluk Dwi, kedua sahabatnya hanya memandang keduanya.
Y
          “Kriiiiing.......Kriiiiiiing......!!”
          Bel tanda istirahat pun berbunyi. Tampaknya saat itu ke empat sahabat, D’flower, sibuk dengan beberapa kertas tebal yang hendak dimuat dimading. Terutama Lilis.
“Wah... ceritanya sungguh tragis!!” kata seorang siswi yang hendak membaca sebuah cerpen yang baru saja dimuat oleh Lilis.
“Karya siapa sih, kak?” tanya adik kelas itu kepada Lulu yang baru saja mengakhiri kesibukannya didepan mading.
“Baca donk bawahnya..!”suruh Lulu.
“Siswi kelas XI IPA 1, kak?” tandas anak itu memastikan.
          Akhirnya cerita cinta dan persahabatan yang dilewati dimusim kemarau ini, membuat Lilis dan sahabat-sahabatnya berani menyalurkan inspirasinya untuk membuat karya.
          Walaupun ia masih merasa kesal dengan sikap Rio, namun ia masih tetap membuka pintu maaf untuk cowok itu. Dan ia pun sangat berterima kasih kepada Rio. Karena cowok itu lah yang membuat Lilis semakin berani untuk menciptakan inspirasinya.

SELESAI………….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar