@ by, Elyska Ratnawati
P
|
emandangan pagi itu memang sangat
indah dipandang mata, angin sepoy-sepoy melambaikan dedaunan yang hijau nan
rindang. Gunung-gunung berjajaran membentuk bukit yang tinggi. Hari itu
tepatnya hari jumat, terlihat jelas situasi jalan raya di pagi itu begitu
tenang dan damai walaupun ramai oleh beberapa kendaraan yang tak henti-hentinya
bolak-balik silih berganti, kesana-kemari.
Beberapa
anak kos hendak berangkat sekolah melewati rumah Lilis
yang terletak dipinggir kebun teh milik kakeknya yang luasnya sekitar 450 km.
Tak jarang setiap liburan tiba, gadis itu selalu mengisinya dengan membantu kakek merawat kebun. Setiap bulannya
menghasilkan panen yang terbilang cukup lumayan untuk kehidupan sehari-hari.
Mama pun
mulai melangkahkan kakinya mengawali aktivitas dipagi itu untuk berjualan
dipasar. Keranjang berwarna coklat tua yang dibawanya itu hanya berisi oleh
lokat butut yang dibelinya satu tahun yang lalu. Sedangkan Papa dan Ramdan sedang bersarapan diruang makan dengan
segelas susu putih yang dihidangkan bersama sepotong roti selei. Tak kalah halnya,
kakek pun tampak begitu sibuk dengan aktivitasnya. Walaupun umurnya sudah amat tua
ia tidak pernah mengenal lelah. Tidak hanya sibuk merawati kebunnya namun
beliau masih tetap memperhatikan dan mengurusi ayam-ayam peliharaannya yang kandangnya
terletak di belakang rumah.
Sekitar
pukul 06.00 Lilis selesai
mandi dan segera memakai seragam jilbab putih-abunya. Di letakannya tas dan
beberapa buku di atas meja depan. Lalu, ia menghampiri Papa dan Ramdan, duduk sambil menikmati sarapan pagi yang
telah disiapkan Mama sebelumnya. Beberapa menit kemudian, mereka beranjak dari
meja makan untuk segera mengawali aktivitasnya dipagi yang cerah itu. Papa
pergi ke kantor dengan menaiki motornya. Ramdan,
adik semata wayang Lilis yang baru
menduduki bangku SMP itu pun ikut menumpanginya dibelakang untuk pergi ke
sekolah. Padahal lumayan deket sih
jaraknya...! Sedangkan Lilis,
ia berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkot langganannya. Dengan
berjalan santai, di dekapnya beberapa buku diktat sains. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan setiap hari kecuali jika hari
libur.
Y
Menjelang jam istirahat, nggak banyak anak
yang berada di kelas. Yang ada adalah mereka D’Flower namanya, yaitu Lilis,
Dwi, Lulu dan Amel. Ke empat sahabat itu tampak asyik bercerita dan bercanda
gurau di pojok kelas.
Iwan adalah salah seorang anak
kelas XI IPS 3, ia berjalan menuju kelas XI IPA 1 dengan gayanya yang so’ cool abizz. Sambil berjalan menuju
kelas, sesekali tak lupa ia memandangi kaca jendela untuk merapikan rambut gaulnya
yang bikin anak-anak cowok pada ngiri..
Saat itu pintu kelas XI
IPA 1 terbuka membentang karena banyak anak keluar masuk kelas. Ia pun masuk
tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dasar
gak punya sopan santun...! Kemudian
ia mengampiri D’Flower.
“Maaf, aku ada perlu sebentar dengan Lilis” Katanya.
“Ada perlu apa, Wan?”
tanya Lilis sambil menoleh pandangannya
ke arah Iwan yang masih
berdiri tegap di depannya.
“Bisa keluar sebentar, Lis?”
Ajak Iwan. Lilis pun menjawab santai “Hmm, Oke?!”
“Sorry guys, gue keluar sebentar ya!” izin Lilis kepada ke tiga sahabatnya. Lalu,
ia beranjak dan mengikuti Iwan
dari belakang yang hendak keluar.
Di luar kelas suasananya begitu ramai. Beberapa
anak duduk berjajaran di teras depan dengan menikmati jajanan dari kantin yang
terletak di belakang sekolah. Ada pula sekelompok anak laki-laki yang sedang
asyik bermain bola basket di lapangan. Dan sebagian lainnya ada yang sedang
bermain sepak bola.
Di taman..
“Sebelumnya aku minta maaf karena dah ganggu waktu kamu.”
Ungkap Iwan sambil mencubit kecil sepotong
dedaunan yang di ambilnya.
“Oh, tak apa kok” jawab Lilis
pelan.
“Tadi malem aku kerumah Rio. Dia sempat cerita tentang cerita
kalian dulu. Kebetulan ntar malem kita kan mau berangkat study tour ke Yogyakarta, sebelumnya dia ingin ketemu kamu...”
Jelas Iwan to the point.
Tiba- tiba gadis itu
terdiam sejenak. Wajahnya tampak begitu pucat mendengar nama yang telah lama
menghilang dari pandangannya. Entah apa yang ada dibenaknya?
“Gimana? Apa kamu bersedia untuk ketemu Rio? Ingat lho,
kesempatan nggak datang dua kali...” ucap Iwan
dengan memandang raut muka Lilis.
Lilis pun tertunduk malu. Dia nggak mau temannya
itu mengetahui apa yang tergambar di muka gadis
polos itu.
Tanpa ragu Lilis
menjawab dengan melempar sebentuk senyuman ramah ke arah Iwan “Ehm.. oke deh! Aku mau.”
Dengan semangat, Iwan berdiri dan mengucakan terimakasih pada gadis yang da
dihadapannya itu.
Y
Bel tanda masuk
kelas pun kembali berbunyi. Semua anak berhamburan menuju kelas dan
meninggalkan kantin. Iwan
kembali kekelasnya setelah Lilis
menyetujui ajakannya itu.
Setengah jam pelajaran berlangsung tanpa
guru dan hanya catatan panjang di papan tulis. Iwan tampak sibuk menghubungi teman yang di kenalinya
sejak sekolah dasar itu.
“Hallo, Yo! Gue ada kabar gembira buat loe. Loe mau tau gak?”
tanya Lucky so’ serius.
“Kabar gembira apa?” kata Rio yang hendak selesai melakukan
uji praktek komputer saat itu.
“Lilis mau
ketemu loe ntar malem!!” jawabnya dengan tegas.
“Yang bener loe?” Tanya Rio dengan ekspresi kaget, nggak
nyangka.
“Ya, gue bener lah...! Apa sih yang nggak buat sahabat gue
sendiri..!!” Gombal Iwan sambil cengengesan.
“Thank’s banget ya...! loe emang sahabat gue yang paling the best deh...!!” ungkap Rio, tak kalah gombalannya
dengan Iwan.
Komunikasi mereka pun berakhir saat Bu Nani
memasuki ruang kelas. Iwan
segera kembali menulis karena takut di marahi Bu Nani, guru paling gualak. Maklum, pembina Osis di sekolah kami walaupun galak tapi tegas brooo!! Dan keadaan kelas saat itu menjadi tenang
kembali. Yah, ini memang sudah menjadi
ciri khas kelas XI IPS 3, jika nggak ada guru, kelas bagaikan station kereta
api.. Tuuuut.....Tuuuut.....Tuuuuut.....!!
bunyinya..
Y
Sore itu, Lilis tampak sibuk packing segala perlengkapannya yang akan
dibawa saat tour nanti ke dalam tas
gendongnya yang super gede. Dari
peralatan mandi, pakaian, hingga kosmetik yang dimilikinya di tata rapi di
dalamnya. Semuanya tampil perfect
berwarna green.
Lain halnya dengan ketiga sahabatnya, Dwi,
Lulu dan Amel, mereka sudah lama nongkrong di depan aula sekolah sambil
menunggu Dara yang masih belum kelihatan batang tubuhnya yang mungil itu.
“Lilis kok belum
dateng juga ya?” tanya Dwi kepada kedua sahabatnya sambil memasukkan sepotong snack kentang goreng ke dalam mulutnya.
“Ya. Biasanya dia s’lalu menjadi yang paling awal.” Kata Amel
yang sedang menempatkan tasnya di atas teras.
“Mungkin saja dia masih mempersiapkan segalanya yang akan
dibawa.” Ungkap Lulu.
“Oia, By the way
tadi si Iwan tumben-tumbennya ngobrol sama Lilis. Ngomongin apa ya mereka tampaknya
serius banget?” Dwi penasaran.
“Paling juga masalah organisasi. Bukannya bulan depan mau di
adakan latihan gabungan antar organisasi untuk sekolah kita?” sanggah Lulu.
Tak lama kemudian, disela-sela
perbincangan mereka, Lilis pun muncul dari pintu gerbang.
Semua anak terpaku melihatnya.
Tiba-tiba, suara Bu Nani terdengar sangat keras di sekitar
Aula.
“Tes.. tes.. !!” katanya sambil percobaan speakers yang dah
lama gak ke pake.
“Kepada seluruh siswa SMA Bhakti yang hendak mengikuti Study
Tour ke DIY diharapkan untuk segera berkumpul di lapangan basket setelah pukul
20.30. Terima kasih” Ucap Bu Nani memberikan intruksi kepada seluruh siswanya.
Menjelang malam itu, Iwan menghampiri Lilis yang sedang asyik berkumpul dengan
ke tiga sahabatnya, D’Flower.
“Hey...!!”Iwan
berusaha menyapa mereka. “Wah,
kayaknya dah siap banget nih!!” goda Iwan.
Semuanya menoleh pandangan sinis kepada lelaki itu, so’ dia dah dua kali ganggu kebersamaan mereka.
“Oh, iya donk!!” sapa mereka serempak. Kemudian Lulu
menambahkan “Ada apa lagi sih,
kayaknya mau ada perlu lagi ya, sama Lilis?”
“Boleh donk, gue pinjem temen loe itu, sebentar... aja?” pinta
Iwan dengan wajah tanpa dosanya itu.
Seakan-akan dia gak punya salah sama mereka.
“Boleh-boleh aja sih, tapi jangan terlalu lama, okey...?” tegur
Amel dengan ekspresi jutek dan sebel.
Kemudian Iwan pun mengajak Lilis untuk menemui sahabatnya, Rio,
yang sudah lama menunggunya di depan taman sekolah. Letaknya memang gak jauh
dari Aula. Ketika Lilis dan Iwan berjalan menuju tempat itu, Lilis tampak nervous. Benaknya berkata, Duh, gue deg-degan banget nih! Mau ngapain
ya ko tumben si Rio pengen ketemu gue? Ternyata, kalo difikir-fikir dia emang
masih inget sama gue...!
Tiba di taman...
Terlihat Rio duduk sendiri di atas jok motornya. Iwan yang posisinya paling depan langsung
menghampiri Rio terlebih dahulu. Jantung Lilis
pun makin berdetak lebih kencang. Nervous
banget nih gue. Benaknya.
“Hey Yo, tau gak siapa yang gue bawa?” tanya Iwan mengagetkan Rio sambil
menutup kedua mata sahabatnya itu dari belakang.
“Gimana gue bisa tau siapa yang loe bawa? Mata gue ditutup
nih, gelap tau!!” kata Rio.
Dilepaskannya tangan Iwan,
Rio tampak senang melihat seorang cewek yang di bawa oleh sahabatnya malam itu.
Dengan penuh rasa nervous, Lilis segera mengawali percakapannya dengan Rio.
“Hey, mm.. udah lama menunggu disini?” Tanya nya, gugup.
“Gak apa kok” ungkap Rio sambil tersenyum didepan Lilis. Ia pun segera mengulurkan tangan
kanannya. Gadis itu pun segera membalasnya dengan ramah.
Karena gak mau ganggu keduanya, Iwan pun kembali ke Aula dan meninggalkan mereka berdua.
Y
Saat itu suasana menjadi lebih hening, Rio
dan Lilis saling terdiam. Sampai suatu saat
kemudian, tanpa disadari keduanya saling menyapa.
“Gimana kabarnya?” serempak. Duh kompak banget sih! Janjian ya buu??
“Hehe... ko kompak ya?” kata Rio. Lilis hanya tersenyum malu.
“Lho, kenapa? Ada yang lucu?” tanya Rio.
“Gak kok. Oia, kabar ku baik. Gimana sebaliknya?”
“Ya, aku juga baik.” balasnya pelan. Dengan segera Rio
menyampaikan tujuannya.
“Ehm, Lis,
maafin Rio ya? Dulu, Rio gak sengaja ninggalin kamu gitu aja?”. Permohonan itu terucap
lembut, tampaknya dari lubuk hati yang terdalam. Lilis tak kuasa menatap raut muka cowok itu. Ia hanya
tertunduk. Ia pun merasakan kerinduan yang selama ini terpendam dihatinya itu mulai
terobati. Wajah Rio emang gak ganteng-ganteng banget sih. Tapi wajahnya itu lho baby
face banget! Bikin hati cewek itu
tertarik-tarik...!
“Ya, aku maafin kamu.” jawabnya seketika menatap.
“Makasih...”
Ucapan itu pun menjadi biang utama percakapan mereka.
Tak terasa selang beberapa jam mereka
lewati. Kembali terdengar suara Bu Nani dari Aula, ke duanya pun saling ucap
perpisahan karena Lilis akan
segera menaiki bis dan berangkat ke DIY. Di elusnya rambut gadis itu penuh
ketulusan dan kelembutan. Ia hanya mampu tersenyum penuh rindu.
Hingga timbul pertanyaan di benak gadis itu, Kenapa kita harus berpisah lagi? Aku nggak mau pisah lagi sama kamu, Rio!!
Sejenak kata itu membuat hati Lilis
kembali sedih. Ia pun segera menghampiri
teman-temannya di Aula.
Y
Bis pun mulai berangkat. Semua anak duduk tertib
di tempat duduknya masing-masing. Saat itu Lilis, Dwi, Amel dan Lulu berada di bis dua.
Musik di bis dua pun sudah mulai terdengar tak kalah dengan bis satu dan
bis-bis yang lainnya. Anak-anak tampak begitu senang. Ada yang sedang memainkan
gitar, ada yang bernyanyi, ada pula yang ngemil-ngemil layaknya Dwi. Tapi
berbeda dengan Lilis, dia duduk
dengan tenang tanpa ada seorang pun yang mengganggu sambil melemparkan
pandangannya ke arah jendela. Berharap bisa melihat Rio kembali.
Dari belakang, Lulu menggodai Lilis.
“Ehm... yang habis melepas rasa kangen....!!”katanya sambil
cengengesan.
Kedua sahabatnya pun, Dwi dan Amel yang duduknya didepannya,
ikut menggodai sahabatnya yang tengah di imbangi kerinduan.
“Bagi-bagi donk ceritanya...” kata mereka serempak. Gadis itu pun tersipu malu.
“Apaan sih?” tanyanya. Pura-pura gak tau.
Perjalanan pun masih begitu panjang. Gorden bis ditutup rapat. Cahaya lampu tak
lagi bersinar. Ke empat bis yang hendak berangkat itu berjalan pelan agar
selamat sampai tujuan. Berbeda dengan bis-bis yang lainnya, keadaan di bis dua,
anak-anaknya pasang ekspresi ketakutan. Mereka so’ berani nonton film horor. Yah anggap aja kayak lagi di bioskop..
Hehehe... tapi ada beberapa anak sudah terlelap tidur, mungkin kebanyakan
ngemil jadi ngantuk deh! Ada pula yang masih ke asyikan ngobrol, kayak Llis dan ke tiga sahabatnya itu. Maklum,
mereka ingin tau apa yang terjadi antara Lilis
dan mantannya itu, Rio. CLBK gak ya???? Hehe..
Hingga tak terasa perjalanan saat itu diberhentikan
sejenak. Sekitar pukul 22.30 ke empat bis berhenti di depan sebuah tempat
makan. Anak-anak pun terbangun dan turun dari bis untuk segera mengisi perutnya
yang sejak tadi miscall..
Y
Pagi yang cerah itu, matahari mulai
memancarkan sinarnya dengan indah. Sungguh besar kekuasaan tuhan. Begitu
megahnya dunia dengan berbagai isinya. Langit biru tampak lebih sejuk dengan
udaranya. Burung-burung pun memamerkan suaranya yang merdu. Kupu-kupu
berwarna-warni itu hinggap diatas sekuntum bunga mawar yang di letakkan di
taman sebuah hotel.
Kebiasaan buruk yang di alami sebagian
anak-anak SMA Bhakti yaitu bangun kesiangan sudah melekat di dalam diri mereka.
Sungguh ruginya mereka tidak melihat keajaiban yang terjadi di pagi itu. Namun
berbeda dengan D’Flower yaitu Lilis, Dwi, Amel dan Lulu. Mereka sudah
terlebih dahulu bangun paling awal dari yang lainnya.
Dwi mulai bergegas membereskan
perlengkapannya. Lain halnya dengan Amel ia sudah nongkrong di depan kamar
sambil bercanda gurau dengan salah seorang temannya, cowok. Sedangkan Lilis, sedang duduk sambil menunggu Lulu
yang lagi mandi. Lulu emang paling lama banget kalo dah diem di kamar mandi. Gak tau deh, lagi ngapain?
Y
Ketika semuanya sudah siap
berangkat, anak-anak kembali masuk kedalam bis. Perjalanan memang tidak begitu
jauh dari tempat peristirahatan mereka. Obyek wisata yang pertama kali di
kunjungi adalah Candi Borobudur.
Hingga sesampainya di sana, suara
Bu Nani yang lantang itu kembali terdengar memberi intruksi. Semua anak
mengerubunginya untuk mengetahui pengarahan dari seorang pemandu disana.
Tak lama kemudian, setelah di
berikan pengarahan, semua anak di bolehkan untuk bermain disana. Dilihat dari
sebelah kanan, ada sepasang suami istri yang datang dari Swedia - Inggris sedang asyik bercakap-cakap dengan Lilis dan kawan-kawan. Tak lupa mereka
mengisi kesempatan itu dengan berfoto-foto dengan turis asing tersebut.
Selang beberapa jam, semua kembali
ke bis. Namun Lilis dan Amel
masih berada di sebuah shop kecil yang
terletak di dekat Candi.
“Eh, Lis,
lihat deh pernak-pernik di toko itu bagus-bagus ya? Kesana yuk?” ajak Amel.
“Yuk...!”jawabnya singkat. Kemudian mereka
menghampiri toko itu yang kelihatannya menjual berbagai pernak-pernik buat
cewek.
Mereka tak sadar ke dua sahabatnya, Dwi dan
Lulu sudah menunggunya di bis.
“Lu, loe lihat Lilis sama Amel, gak? Tadi kan bareng
kita?” tanya Dwi khawatir. Lulu menengok pandangannya ke arah keramaian orang.
“Wah, gue gak lihat! Kemana ya mereka?”
“Oia, mereka kan Miss Shoping...?” Dwi baru inget.
“Pasti mereka nyangkut disana..!” kata Lulu
dengan menelunjukan telunjuknya ke berbagai shop
kecil yang berjajar itu.
“Mana susah lagi nyarinya...” gerutu Dwi
tampak begitu kesal dengan kelakuan sahabatnya, Lilis dan Amel.
Tak lama kemudian, muncul Lilis dan Amel. Terlihat masing-masing di
antara mereka membawa sebuah kantung berisi pernak-pernik yang dibelinya.
“Loe kemana aja sih?” tanya Dwi dengan
pandangan tajam kepada keduanya.
“Mm... sorry guys,
tadi kita habis beli something dulu...” jawab Amel, nyengir.
Gak peduli dengan kekesalan Dwi yang sejak tadi mengembur seperti api.
Akhirnya
mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa obyek wisata pun
telah di lalui. Dari penampilan yang awalnya Wah, jadi berubah, menjadi tampang-tampang asli yang lelah, kotor,
bau keringet, semuanya kayak gitu deh.. Mereka pun segera pulang ke hotel untuk
beristirahat.
Y
Setelah tiga hari di DIY, tampaknya
anak-anak SMA Bhakti begitu sangat kelelahan. Sekitar pukul 15.23 sepulangnya
dari Pantai Parang Tritis, mereka melanjutkan pulang ke tempat asal. Tapi tak
ada yang berubah dari semangat mereka, walaupun lelah tampaknya mereka sangat
senang dan mungkin belum puas untuk menikmati liburan panjang disana.
Di bis dua, anak-anak sangat kompak
bernyanyi riang. Namun berbeda dengan Lilis,
ia tampak sibuk smsan. Tau deh bareng
siapa?
“Pulang nya kapan?” muncul pertanyaan itu
di layar handphone Lilis. Kemudian
ia segera membalasnya.
“Pulang ntar malem...” jawabnya singkat.
“Kira-kira jam berapa?” balasan pun semakin
kuat untuk kembali memulai percakapan lewat sms.
Kalau di tilik-tilik, sms itu di kirim dari
seseorang yang bernama Rio. Oh...
ternyata Rio kembali ngasih perhatiannya buat Lilis...
huuuu CLBK nih....??
“Sekitar jam 10 malem, mungkin?”
“Ya udah nanti, aku jemput ya... Hati-hati
aja dan jangan lupa makan!” balasnya penuh perhatian.
Tiba-tiba...
“Ehm,,, ca’ileee
ada yang mau dijemput ama someone
specialnya nih...” suara itu jelas terdengar di telinga Lilis. Seseorang menambahkan dari arah
samping “Pasti hatinya lagi berbunga-bunga” tangkas anak itu.
Kemudian Lilis menoleh ke belakang..
“Luluuu!!!” teriak gadis itu dengan muka cemberut.
“Tak apa kok, biasa aja. Aku kan sahabat
mu” kata Lulu pasang muka tak berdosa.
“Tapi kan ini rahasia...”gerutu Lilis malu.
“Ya deh, maaf!!!”
Tiba-tiba....
“Wooow.... lihat pasir itu!!” seru seorang
anak yang sedang mengarahkan pendangannya keluar jendela. Kemudian ia berkata
lagi, “Indah cristal itu....!!”
Dengan segera Lilis dan Lulu berhenti berseteru, dan
ikut mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
“Amazing....!!”
Seru Lulu, bangga.
“Lu, bagus ya?” tanya Lilis seakan melupakan perseteruan yang
terjadi di antara mereka barusan.
“Ya. Oia, padahal bibi ku pengen di bawain
pasir kayak gitu.” Katanya.
“Untuk apa?” tanya Lilis penasaran.
“Ya sebagai kenang-kenangan dari sini aja.
Kebetulankan bibi ku lagi ngidam.” Jelasnya.
“Hahaha.... aneh-aneh aja ya!! Masa iya ngidam
pasir…??” Lilis tertawa terbahak-bahak begitu mendengar
parkataan sahabatnya yang konyol itu.
Saat semuanya terpukau pada berjuta-juta
butir pasir, Amel dan Dwi tampak nyenyak dan pulas menikmati tidur siang yang
melelahkan itu. Sepertinya mereka nggak terganggu dengan keramaian yang di buat
teman-temannya di dalam bis. Sedangkan Iwan,
ia terbangun dan langsung pasang muka kesel.
“Woy... jangan berisik donk!! Gue pengen
tidur nih......!!” teriaknya.
Tapi semua anak tak menghiraukannya. Mereka
keasyikan bercanda gurau tanpa memperhatikan Iwan yang marah besar.
Y
Sekitar
pukul 20.00 Mama, Papa, dan Ramdan
sedang duduk di teras luar sambil menikmati dinginnya malam. Mereka menunggu
kedatangan Lilis dari study tour.
“Pa, Lilia
pulang jam berapa?? Mama sudah ngantuk nih” kata Mama dengan suara lembut.
“Ramdan
juga. Pengen bobo ah...” seru anak laki-laki itu. Ia berdiri dan berjalan menuju
kamar.
“Tadi Lilis
hubungi Papa. Katanya pulang nya agak maleman” jawab Papa sambil meminum
secangkir kopi hangat, menghilangkan rasa ngantuk.
Tiba-tiba, “Tiiiit.... Tiiiit....” dari
dalam terdengar bunyi handphone. Ramdan pun berteriak sangat keras,
“Papa, Mama, Kak Lilis pulangnya bareng Kak Rio...!!”
“Rio? Kenapa bukan Randy saja yang jemput?”
kata Mama kaget.
“Rio itu siapa, Ma?” tanya Papa khawatir.
Papa emang gak inget sama sekali dengan seorang Rio yang pernah menjadi kekasih
putrinya tahun lalu.
“itu lho Pa, mantan pacarnya Lilis. Yang sekolahnya di SMK Harapan 2.
Pokoknya Mama gak setuju kalo Lilis di
jemput sama dia!! Dia anak yang gak punya sopan santun sama orang tua!! Papa
masih inget kan, waktu Lilis
di ajak pergi liburan sama dia, tapi dia gak izin dulu sama kita?!” ungkap Mama
kecewa. Kemudian ia menambahkan, “Cepet
Papa jemput Lilis,
sekarang!!”
Handphone Papa pun berbunyi lagi, ketika di
buka...
“Pa,
Ma, jangan khawatir Lis
segera sampai di rumah. Tunggu Lis disana ya...”
Akhirnya dengan rasa penuh kekhawatiran
Mama menunggu putri semata wayangnya. Mama emang gak suka dengan sikap Rio yang
dulu. Tapi Rio yang sekarang beda, Ma.
Dia dah tau artinya sopan santun. Benak Lilis.
Y
Tiba di sekolah pukul 23.10 semua anak
turun dengan tertib dari bis. Sebagian anak ada yang bermalam di sekolah karena
tidak ada jemputan. Sebagian anak pula ada yang sedang menunggu orang tuanya
untuk di jemput layaknya Dwi, Amel dan Lulu. Mereka memasang muka gelisah.
Berbeda dengan Lilis, hatinya sedang
berbunga-bunga. Karena seseorang telah menunggunya sejak tadi.
“Ayo naik...” ajak cowok itu lembut. Lilis tersenyum bahagia. Ia pun segera
menaiki sebuah motor yang di miliki cowok bertampangkan baby face itu.
Di perjalanan, Lilis sempat memutar fikirannya pada
masa lalu. Wah... gue pasti bakal seneng
banget kalo gue bisa balikan lagi sama dia. Benaknya dengan penuh harapan.
Tiba-tiba sepintas illfeel, dia melihat Rio tak seperti dulu. Sekarang dia lebih
dewasa, wajahnya yang baby fice itu
udah gak kinclong lagi.. Aku kangen
banget sama kamu yang dulu, Rio!!
Ketika cewek manis itu sedang ke asyikan
berkhayal, tiba-tiba dia di tawari Rio untuk memakai jaketnya. Huuu... so’ perhatian banget sih...!! Jadi
tambah seneng aja tuh cewek...!!
“Ehm, gak usah kok” tandasnya, pura-pura.
“Nanti kamu kedinginan, ntar sakit lagi,
gimana?” kata Rio penuh perhatian. Namun Lilis tetap
menolaknya.
Y
Hingga
sesampainya di rumah. Selang beberapa jam Rio menyempatkan waktunya untuk
bersilahturahmi kepada Papa – Mamanya Lilis.
Ternyata cowok itu bisa meluluhkan
ortunya Lilis.
Lilis membantingkan tubuhnya di atas kasur
setelah mantan pacarnya itu pamit pulang. Dia memejamkan matanya sebentar, lalu
menerawang menatap langit-langit kamar. Nggak bisa tenang dia membolak-balik
posisi tidurnya tapi tetep aja gelisah.
“Kenapa gue mikirin dia terus?” kata Lilis. Dia membayangkan kenangan
terindah yang baru saja ia alami bersama Rio.
“Kenapa sih loe so’ perhatian banget sama
gue? Duh... Rio, kenapa sih loe dateng lagi ke kehidupan gue...? Gue kan dah
hampir aja ngelupain loe dan kenangan kita di masa lalu...?” katanya, kesal pada
dirinya.
“Tapi... makasih ya, loe emang baik banget sama
gue. Loe bela-belain jemput gue tengah malem. Padahal besok kan loe harus masuk
sekolah. Tau gak, kehadiran loe barusan tu jadi bikin gue pengen banget
perbaiki masa lalu kita...”
Tiba-tiba ia membukakan matanya,
“Ah, nggak!! Pokoknya gue gak boleh ngarep
sama dia! Inget Lis, loe tu dah
punya Randy sekarang!” kata Lilis
pada dirinya sendiri. Dia pun terbangun dan menatap dirinya ke cermin.
“Rio itu mantan gue. Gue gak boleh berharap
terlalu berlebihan sama dia. Dia hanya untuk jadi sahabat gue. Inget!!, hanya
sahabat...!! HANYA SAHABAT ... !!!”kata Lilis
berusaha mengembalikan semua tujuan awalnya.
Y
Waktu
pun terus berputar, sebulan gak ketemu Rio rasanya berat banget bagi Lilis. Ya walaupun hanya sebatas
komunikasi lewat hp, emang gak memuaskan!!
“Lis, gimana,
loe masih contact gak bareng Rio?” tanya Iwan.
Saat itu sekolah kami sedang mengadakan
kebersihan karena minggu depan anak kelas XII akan menghadapi Ujian Nasional.
“Kalo gitu minggu depan kita libur donk...?”
Terdengar pertanyaan seorang anak itu dibalik pintu kelas penuh semangat.
Kebetulan
saat itu Lilia dan
teman-temannya lagi nongkrong di depan kelas XI IPS 3.
“Contact sih pasti..!” jawabnya singkat.
“CLBK ya?” tanya Iwan penasaran.
“Gak kok” tandas Lilis dengan cepat.
“Mau tau aja loe urusan orang...!!” seru
Dwi sambil menyeruput es kelapa muda yang dibelinya barusan.
“Hehehe...”
Iwan tertawa terbahak-bahak padahal gak
ada yang lucu, dasar orang aneh...!!
Ketika semuanya sudah beres, seluruh
ruangan kelas dan kantor guru sudah tampak bersih dan kinclong, begitu pula
dengan taman dan rerumputan yang telah di potong serapi mungkin oleh tukang
kebun sekolah.
Tiba-tiba seorang guru ekonomi berdiri di
depan lapangan basket untuk memberikan pengumuman. Semua anak pun langsung
menyerbu tanpa leha-leha. Anak-anak kelas X dan kelas XI tampak begitu semangat
mendengar minggu depan libur. Berbeda halnya dengan kakak kelas mereka. Tampak
dari wajahnya begitu gelisah menghadapi ujian nasional minggu depan.
“Semangat.....!!” seru Pak Zaenal memberikan semangat kepada
seluruh anak-anak kelas XII.
Akhirnya pengumuman pun selesai, semua anak
berhamburan menuju pintu gerbang. Beberapa anak laki-laki bersorak-sorai
menyambut hari libur. Terlihat D’Flower
sudah siap menuju rumahnya masing-masing.
“Hey guys, seminggu
penuh kita libur nih, kita bikin planing
yuk?” ajak Dwi memastikan kepada ketiga sahabatnya.
“Kalo menurut gue sih, mending kita istirahat aja di rumah,”
kata Lulu dengan nada suaranya yang gak semangat. Maklum lagi M...! jadinya kebawa-bawa lemes dweh...!
“Mending kita shopping
aja, gimana? Refreshing gituu...!”
tangkas Amel dengan gayanya yang so’
perfect.
“Hm... di rumah? BT..!! shopping??
Buang-buang duit...!! gimana kalo dalam seminggu ini kita pake buat di rumah, shopping,
juga kumpul di rumah gue sembari ngerjain tugas observasi study tour kemaren
and kalo ada waktu kita reunian, makan-makan gitu deh..! gimana??” saran Lilis. Dia merubah mimiknya dengan
serius.
“Hmm... Oke dech...!!” jawab Dwi, Amel, dan Lulu serempak.
Perjalanan menuju rumah memang begitu lama.
Di dalam angkot, mereka habiskan kesempatan dengan bercanda gurau. Salah satu
dari mereka ada saja yang menjadi bahan ledekan.
Yah..! Amel, si cewek berpenampilan feminim
dan so’ perfect dengan warna serba pink-nya itu selalu di jadikan bahan
ledekan oleh ketiga sahabatnya, ya? Walaupun
begitu dia paling jago dapetin cowok-cowok keren lho...
Lulu, cewek yang sama sekali gak mandang
penampilan ini emang jago banget kalo di ajak debat. Pokoknya gak bakal berhenti-berhenti deh... kalo gak ada titik!! Koma
juga bakalan di terobos lho!!hehehe... cewek ini emang pemalas bangun pagi.
Dia juga termasuk salah satunya siswi yang sering banget kesiangan gara-gara
malasnya itulah.
Dwi...!
siapa sih yang gak kenal Dwi? Si cewek paling doyan jajan di antara D’Flower lainnya ini emang gak kalah
saingannya kalo ngerebutin piala emas cewek paling jutek se-internasional. Weleh-weleh...!!(geleng-geleng donk!!). Tak
hanya itu, cewek berkulit putih ini emang paling jago bikin puisi lho. Apalagi kalo
puisinya tentang cinta. Ternyata cewek
jutek juga bisa jadi puitis..!! Bayangkan kalo cewek jutek ngomel-ngomel dengan kalimat
puitisnya itu.. wow gokil banget kali ya..?haha..
Berbeda halnya dengan Lilis yang memiliki tubuh mungil ini
emang paling calm di antara keempat
sahabat itu. Dia mulai menekuni hobby menulisnya hingga beberapa karyanya di
pajang di mading. Dan mulai berani memuat karyanya di tabloid. Wah... mau jadi penulis populer ya???
Namun ia tak pernah menjadi seorang cewek peminder walaupun beberapa temannya
ada yang menjulukinya “Sizuka”.
Selalu menanggapinya dengan Happy!!
Pokoke
D’Flower emang flower banget deh, ada
kelopaknya, ada mahkotanya, ada putiknya, ada pula buahnya... yah itu, perfect
and wangi abieszzzz!!
Y
Malam itu adalah malam minggu, di tengah
keramaian terlihat Lilis dan Dwi
sedang asyik memilih pernak-pernik yang terbuat dari bahan busa dan berbulu.
Hingga perut mereka pun keroncongan, akhirnya mereka datang ke sebuah tempat makan.
“Wi, loe mau pesen apa?” tanya Lilis sambil melihat-lihat buku menu.
“Gue samaan aja deh ma loe”jawabnya.
“Mba, kita pesen es jeruk dan stick kentangnya dua yah! GPL, mba!” perintah Lilis kepada seorang pelayan di depannya.
Setelah beberapa jam kemudian, mereka pun
segera membayar jajanannya. Ia keluar dan melanjutkan jalan-jalan malamnya ke
sebuah Distro
yang lagi discount besar-besaran. Lumayan murah sih harganya!
“Lis, emangnya Randy
lum dateng juga dari Bali?” tanya Dwi. Lilis
tersenyum mendengar pertanyaan Dwi yang tumben-tumbennya nanyain Randy, pacar Lilis yang udah setahun lebih ini berhubungan
dengan Lilis, sahabatnya.
“Belum” jawabnya singkat.
Sambil memilih beberapa pakaian yang kesemuanya charming, gak berhenti-berhentinya mereka bercerita. Lilis bercerita tentang apa yang terjadi
antara dirinya dengan Rio. Wah, tampaknya dia begitu senang. Walaupun sebulan
ini belum ketemu lagi. Kenangan bersama Rio malam itu, emang masih tersimpan di
hati Lilis.
Tiba-tiba ketika keduanya tertawa riang, tak sengaja Dwi
menolehkan pandangannya ke pintu masuk. Matanya membelalak siapa yang masuk ke
distro ini.
“Lis, bukannya itu
Rio?” Dwi merasa ragu dengan apa yang dilihatnya. Lilis pun menolehkan pandangannya ke
arah Lelaki
yang ditunjukan sahabatnya itu.
“Rio??” Lilis kaget.
Ia tak percaya jika Rio ada di
tempat yang sama.
Tapi tiba-tiba hatinya berubah menjadi
sangat perih dan begitu sakit tak
seperti sebelumnya. Ketika dilihat Rio menggandeng
seorang cewek??!!
Dwi langsung menyergap pundak sahabatnya itu. Ia mengerti
dengan perasaan Lilis.
“Lis, sabar
ya??” Dwi mencoba memberikan nasihat. Namun Lilis tampaknya tak bisa menahan kesedihannya.
Setitik demi setitik air mata itu terjatuh dan membasahi pipinya. Namun
tampaknya Rio memang tidak melihat keduanya.
“Siska??” Dwi terus
bertanya-tanya dalam hatinya. “Apa itu Siska??”
“Lis, cewek itu
Siska!” kata Dwi, gak nyangka.
Lilis
memandang keduanya dari jauh. Dan ternyata memang benar cewek itu
adalah Siska. Siska sahabat yang ia kenal sejak menduduki bangku SMP itu
ternyata pacar Rio. Tapi entah, apakah
benar Siska adalah pacar Rio?? Kalo memang benar, untuk apa kemaren Rio
memberikan kesempatan dan harapan penuh sama gue? Nemuin gue dan jemput gue
sepulang tour? Tapi kalo salah, kenapa Rio dan Siska saling bergandengan tangan? Dan datang
kedistro ini hanya berduaan saja? Benak gadis itu
bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian, tak sengaja Rio
meleparkan pandangannya ke arah Lilis.
Tampaknya Rio begitu gugup dengan kelakuannya. Di lepas tangan cewek itu dari
genggamannya karena ia tau Lilis
memperhatikan keduanya. Akhirnya dengan tak kuasa menahan pedih, Lilis mengajak
Dwi untuk segera beranjak pergi dari distro itu.
Y
Kejadian malam itu
membuat Lilis
kapok dan menyesali
pertemuan antara dirinya dengan
Rio. Sejak itu Lilis
ingin melupakan kembali kenangan terindahnya bersama mantannya itu dan dia
tidak ingin bertemu dan berhubungan lagi dengan cowok itu.
Sekitar pukul 10.00 handphone Lilis pun berbunyi
“Kriiiiiing....Kriiiiiiing...!!”tanda pesan masuk.
Gadis
yang sedang sibuk mengisi liburannya dengan membantu kakeknya merawat tanaman
teh di kebun, tidak mendengar sama sekali kalau handphonenya itu berbunyi.
Tampaknya ia sangat senang. Tergambar dari raut mukanya yang ceria.
“Kek, sini, biar Lilis yang
mengambil tehnya. Kakek istirahat aja di sana!” kata gadis itu dengan lembut sambil menunjuk jari
telunjuknya ke suatu tempat peristirahatan untuk kakeknya. Wajah kakek yang
sudah keriput itu tampak sekali sangat lelah.
“Terima kasih, kau cucu ku yang paling baik.” Ungkap kakek.
Kemudian kakek berjalan menuju tempat
itu.
Di bawah pohon mangga yang rindang itu, kakek memandang cucu
kesayangannya dari jauh sambil menikmati hidangan yang sudah disiapkannya.
“Cucu ku memang cantik, manis, rajin pula. Aku bahagia
memiliki cucu seperti Lilis
yang tulus membantu ku. Terima kasih, Tuhan...” banaknya penuh rasa syukur.
Tiba-tiba Mama menghampiri kakek. Dan meletakan secangkir kopi
hangat untuk kakek.
Y
Beberapa jam kemudian,
“Lis!!” teriak
cewek berparaskan putih pucat itu. Lilis
pun menoleh ke arahnya.
Ia tersenyum begitu
melihat siapa yang memanggilnya. Dengan langkah cepat cewek itu pun menghampiri
Lilis yang sedang berada di tengah kebun
teh.
“Hey Lis,
lagi sibuk ya?”kata cewek itu pada Lilis.
“Ga kok, aku lagi bantuin kakek aja.”
“Wah, aku bangga punya sahabat seperti kamu.” tangkas Dwi.
“Sini, aku bantuin, bolehkan?” pinta Dwi sambil sedikit demi
sedikit tangannya mulai mencabut sepotong pucuk daun
teh. Akhirnya mereka pun selesai. Kemudian beberapa kantung teh yang telah
mereka hasilkan di berikan pada kakek. Kakek pun tampak begitu senang.
Y
Di kamar...
“Lis, dia itu Siska. Mana mungkin aku
pacaran sama dia? Aku cuma anggep dia sodara!” Kata Lilis
keras membacakan satu pesan masuk dihandphonenya, tiga jam yang
lalu.
Dwi pun bangkit karena kaget mendengar kalimat yang dibacakan
sahabatnya itu.
“Loe percaya?”tanya Dwi. Lilis
hanya memandang Dwi, entah balasan apa yang akan di berikan pada seseorang yang
mengirim pesan itu.
Tiba-tiba Lilis
meletakan handphonenya sembarang. Dan membantingkan tubuhnya yang lelah itu
dikasur. Seakan-akan ia tak peduli dan menghiraukannya.
“Kenapa?” Dwi semakin penasaran dengan sikap sahabatnya yang
rada-rada aneh itu.
“Ga pa pa koq, wi!!”
jawabnya singkat.
“Lho, ko ga di balas?”
“Lagi gak pengen aja...”
Dwi pun akhirnya mengerti dengan sikap sahabatnya itu. Tanpa berfikir panjang, Dwi
menarik tangan Lilis dan
membawanya keluar.
“Lihat, Lis!!
Dunia ini cukup luas!! Loe teriak sekeras mungkin agar semuanya lega...!!” kata
Dwi sambil memandang raut muka gadis itu.
“Gue gak mau. Lagian gue dah coba tuk lupain dia. Tenang guys, gue fine-fine aja”
“Bener loe fine-fine
aja?”tanya Dwi, gak percaya.
“Ya...!!” jawab Lilis dengan penuh semangat. Tak lama kemudian handphone Lilis berbunyi kembali, tanda panggilan masuk.
“Met ciang, Lilis
ku!! Lagi apa?” sapa seseorang dibalik panggilan itu.
“Met ciang juga, Randy ku. Sekarang Lis, lagi maen sama Dwi,” jawab Lilis lembut. Dwi pun membiarkan
sahabatnya berkomunikasi dengan Randy, pacar Lilis. Tampaknya Lilis emang fine-fine
aja. Ia begitu riang dan ceria saat ditelpon Randy.
Y
Sore itu, Rio dan Iwan sedang asyik menonton acara
televisi dirumah Rio. Mereka tampak serius. Ya, itu adalah acara kesukaan
mereka, Moto GP, yang diputar ulang. Namun
di tengah acara tersebut, mereka ngobrol sambil menikmati cemilan.
“Wan, loe tau
gak, kemaren waktu gue lagi jalan bareng Siska, gue ketemu Lilis.” Katanya.
“What....?? Sumpe
loe??” tanya Iwan gak
percaya.
“Mingkem dulu kek...!! gue jadi illfeel ceritanya..”gerutu Rio melihat ekspresi sahabatnya itu.
“Hehehe... sorry!!
Eh yang bener loe??”
“Ya.”
“Trus?”
“Trus Lilis
langsung cabut, tau deh kemana bareng temennya?” tangkas Rio.
“Loe kok tega banget sih!!”seru Iwan so’ peduliin perasaan Lilis.
“Ya habis, gue bener-bener gak tau kalo dia ada disana?”jelas Rio.
“Ya udah, gue ngerti kok. kalo gitu loe smsin dia kek, minta
maaf gitu.” Iwan mencoba
memberi saran pada sahabatnya itu yang tengah kebingungan.
“Udah dari tadi kali, bray!!”jelas
Rio singkat.
“Trus, balesannya gimana?”Iwan semakin penasaran.
“Gak dibales?”
“Ah, payah loe...!! Katanya pengen CLBK-an, tapi loe nya? Kenapa juga loe jalan bareng Siska? Akhirnya
jadi gak beres gini kan? Inget ya loe, gue udah berusaha deketin loe sama Lilis.” kata lelaki itu panjang lebar.
“Ya, ya, gue tau! Gue berterima kasih banget sama loe. Terus
sekarang gue mesti gimana?” tanya Rio meminta saran ampuh dari sahabatnya itu.
“Ya, loe temuin dia lah...!!”katanya sambil menyeruput sebotol
coca colla yang dipegangnya.
Akhirnya saran Iwan pun diterima Rio. Dengan segera cowok
itu pun beranjak dan mengambil kunci motornya diatas meja.
“Loe mau kemana?” tanya Iwan.
Ia mengikuti sahabatnya itu yang hendak keluar pintu rumah.
“Gue mau nemuin Lilis!!”
jawab Rio penuh semangat. Dengan cepat ia menghidupkan motornya dan
meninggalkan Iwan yang sejak
tadi menunggu ajakan Rio. Wah... cician
banget sih loe, Wan....!!
Y
Saat
mentari mulai menyembunyikan sinarnya di pekat malam, saat itu pula D’Flower tampak asyik berkumpul di rumah
Lilis. Amel dan Lilis begitu sibuk dengan beberapa
genggaman daging ayam yang hendak dibakarnya. Lulu pun ikut menyiapkan piring-piring
beserta gelas dan sendoknya bersama Dwi. Terlihat Mama membantu ke empat
sahabat itu dengan membuat bumbu andalannya yang super peduasss,
das-das-dassssss!! Tapi, enak kok, bisa
bikin orang yang ngerasainnya ketagihan!!!
Sedangkan Papa dan Ramdan, mereka sedang tak ada dirumah
malam itu.
“Hmm... aromanya nguenakkkk
banget....!!”kata Amel sambil mengipas-ngipas ayam bakar di depannya.
“Terasa... nikmatnya!!” seru Lulu.
“Sini Ma, Dwi cobain
bumbunya...”pinta Dwi sambil mendekati Mama yang sedang ngulek sambal andalannya.
“Bohong Ma, jangan mau di cobain
sama dia. Ntar keterusan lho...tar habis lagi...!”singgung Lulu kepada sahabatnya itu. Mama
hanya tersenyum melihat mereka.
Akhirnya
acara panggang ayam pun dimulai. Walaupun terasa kurang dengan kehadiran Papa
dan Ramdan. Namun acara tersebut tetap
dimulai.
“Ini dia.... panggang ayam paling
nguenak!!”kata Lilis sambil
menyodorkan ayam panggang yang telah dibumbui Mama sebelumnya kepada ketiga
sahabatnya. Amel, Dwi dan Lulu tampaknya sudah kelaparan dari tadi. Maklum, baunya itu lho yang bikin
Ma’Nyosss!!
Setelah sepiring penuh tersapu
bersih, sepasang mata Amel tampak layu. Tinggal
5 watt lagi!! Tanpa berfikir
panjang, kemudian dia segera pergi ke kamar dan menyerahkan rasa ngantuknya ke
kasur. Lain halnya dengan Lilis
dan kedua sahabatnya yang lain, segera mencuci piring beserta gelas dan sendok
yang telah dipakainya.
Y
Tiba-tiba
terdengar bunyi bel pintu depan rumah. Mama yang sedang menonton acara televisi
trans7, OKB yang diperankan Olga Saputra dan Rafi Ahmad itu, segera menghampiri
dan membuka pintu dengan pelan.
“Permisi...!!” sapa seorang cowok dengan melemparkan senyuman
kepada Mama. Mama pun membalasnya dengan ramah.
“Ada Lilis nya, Tante?” katanya.
“Ada. Silahkan masuk! Sebentar
Tante panggil dulu, ya!”
Didalam
ruangan, cowok bernama Rio itu duduk sendiri. Dilihatnya sebuah foto didinding,
seorang gadis tergambar jelas dengan sebentuk senyuman manis dengan rambutnya
terbalut oleh jilbab berwarna emas. Ya, itu adalah gambar Lilis ketika masih menduduki bangku SMP.
Tak
lama kemudian, Lilis
menghampiri cowok yang sejak tadi duduk sendiri tak sabar menunggunya. Dwi dan
Lulu hanya mengintip didalam.
“Lis, gimana kabarnya?” katanya sopan.
“Kabar ku baik,” jawab gadis itu pada Rio. Kemudian Rio mengajak Lilis ke depan rumah. Memang pemandangan
didepan begitu memungkinkan keadaan di antara keduanya. Dengan beberapa
penjelasan untuk di ungkapkan pada Lilis
sudah tertempel di otak Rio.
“Kedatangan ku kesini, aku pengen
minta maaf sama kamu? Aku tau perasaan kamu ketika melihat semua itu.”kata Rio
menyampaikan tujuannya. Namun tampaknya Lilis
tak peduli.
“Kenapa? Ko gak dijawab? Kamu gak
bisa maafin aku? Atau mungkin kamu marah sama aku?”tanyanya lagi.
Gadis itu pun masih menundukkan kepalanya.
Seketika ia menoleh pandangannya pada Rio. Dan akhirnya ia berkata,
“Siapa bilang? Aku gak peduli
dengan apa yang ku lihat kemaren. Anggap aja semua yang telah terjadi di antara
kita kemaren, gak ada sama sekali alias kosong! Kamu nemuin aku, kamu jemput
aku sepulang tour, kita saling komunikasi lagi, itu semua anggap aja hanya
mimpi. Karena asal kamu tau, setelah aku berfikir lebih panjang lagi, setelah
aku melihat semuanya, aku rasa...” Tiba-tiba Lilis terdiam sejenak.
“Kamu merasa apa?”tanya cowok itu
dengan menatap raut muka Lilis
yang tampaknya penuh dengan kekesalan.
Hingga
tak kuasa menahan sakit hati yang terpendam dihatinya, Lilis pun melontarkan sepotong kalimat
yang begitu pedas dan mendalam bagi seseorang yang mendengarnya.
Ia berkata, “Aku rasa, kalo Loe tu
emang gak pantes jadi sobat gue!!” katanya pelan sambil menatap raut muka cowok
didepannya. Seketika Lilis
memalingkan mukanya kembali. Rio hanya terdiam dan kaget begitu mendengar kalimat
itu.
Tanpa
fikir panjang lagi, tiba-tiba Lilis
beranjak pergi dari tempat Rio. Tujuan kedatangan cowok itu pun tak menyisakan
kebahagiaan. Harapan yang hendak disampaikan pun tak sempat dibicarakan kepada Lilis. Akhirnya semuanya berakhir tanpa
terwujudnya harapan yang terpendam di antara keduanya. Lilis pun memutuskan untuk tidak
mengingat lagi kenangan bersama Rio.
Y
Di
tengah malam yang pekat. Ditulisnya sebuah lagu Mulan Jameela didalam buku
diary,
Begitu manisnya untuk dikenang
Saat kau masih mengejar cinta ku
Begitu manisnya tangis mu untuk
Memohon hadir ku kedalam hidup mu..
Kata mu kau tak akan tinggalkan aku
Sakiti aku, lukai aku
Tapi kau ternyata
Tinggalkan aku sendiri..
Kata mu kau tak akan pernah duakan
Hati mu, cinta mu..
Kemana perginya kamu yang dulu
Yang maunya selalu dekap dengan aku
Kemana perginya cinta yang dulu
Yang pernah kau tikam kedalam jantung ku..
Hingga tak kuasa ia menahan air
mata. Setitik demi setitik air mata itu tejatuh membasahi kertas. Tiba-tiba
ketiga sahabatnya Dwi, Amel dan Lulu terbangun dan saling berbisik melihat
keadaan Lilis.
“Ada apa dengan dia?” tanya Amel.
“Gak tau?” jawab Dwi pada Amel.
“Tadi malem, bukannya dia habis
ketemu Rio? Biasanya dia tampak senang tapi kenapa sekarang dia jadi gini?”
kata Lulu.
Mendengar kata-kata itu, Dwi
kembali mengingat peristiwa malam lalu. Tiba-tiba ia menghampiri sahabatnya itu dengan iba.
“Lis, gue tau.”sapa Dwi. Ia memandang wajah
cewek didepannya dengan rasa penuh kasihan. Namun Lilis mencoba menghapus air mata itu dan
berusaha untuk memendam sakit hati yang dirasakannya.
“Gue tau, Lis. Mimik muka loe sangat jelas
tergambar perasaan loe saat ini. Gue harap loe peluk gue sekarang.”
“Ayo!”katanya dengan lapang.
Akhirnya gadis itu pun
memeluk Dwi, kedua sahabatnya hanya memandang keduanya.
Y
“Kriiiiing.......Kriiiiiiing......!!”
Bel
tanda istirahat pun berbunyi. Tampaknya saat itu ke empat sahabat, D’flower, sibuk dengan beberapa kertas
tebal yang hendak dimuat dimading. Terutama Lilis.
“Wah... ceritanya sungguh tragis!!”
kata seorang siswi yang hendak membaca sebuah cerpen yang baru saja dimuat oleh
Lilis.
“Karya siapa sih, kak?” tanya adik
kelas itu kepada Lulu yang baru saja mengakhiri kesibukannya didepan mading.
“Baca donk bawahnya..!”suruh Lulu.
“Siswi kelas XI IPA 1, kak?” tandas
anak itu memastikan.
Akhirnya
cerita cinta dan persahabatan yang dilewati dimusim kemarau ini, membuat Lilis dan sahabat-sahabatnya
berani menyalurkan inspirasinya untuk membuat karya.
Walaupun
ia masih merasa kesal dengan sikap Rio, namun ia masih tetap membuka pintu maaf
untuk cowok itu. Dan ia pun sangat berterima kasih kepada Rio. Karena cowok itu
lah yang membuat Lilis semakin
berani untuk menciptakan inspirasinya.
SELESAI………….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar